Muarabeliti, Sumselupdate.com -Karena harga karet belum juga menunjukan grafik kenaikan, sejumlah Ibu Rumah Tangga (IRT) di Kelurahan Selangit, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musirawas (Mura) beralih profesi menjadi pemecah batu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hati.
Menurut Rus (40) warga setempat mengakui bahwa dirinya bekerja menjadi pemecah batu lantaran pekerjaan menyadap karet sudah kurang menjanjikan. Ini disebabkan harga karet belum juga menunjukkan kenaikan.
Dikatakannya memang menjadi pemecah batu penghasilan sehari-hari tidak menentu. Namun paling tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk mendapatkan uang Rp30 ribu ia harus memecahkan 30 ember batu.
“Harga satu ember itu hanya Rp1.000. Nah kalau mau berpenghasilan Rp30 ribu harus memecahkan 30 ember batu,” terangnya.
Diceritakan nya, dahulu sebelum memecah batu, ia sebagai petani karet membantu suami. Karena harga karet semakin turun ia mencari tambahan lain dengan memecah batu. Apalagi kebutuhan sehari-hari cukup besar.
“Kami sudah mempunyai anak, tidak mungkin kalau hanya mengandalkan hasil dari karet yang lima hari cuma mendapatkan dua puluh lima kilo, dengan harga karet yang seperti ini, “jelasnya.
Terpisah, Ketua RT di Kelurahan Selangit Nawawi mengaku ada sebagian kelompok masyarakat di kelurahan selangit mengalihkan profesinya menjadi kuli pemecah batu. Karena jika hanya mengandalkan penghasilan dari menyadap karet tidak mencukupi, apalagi harga karet murah.
“Sedangkan kebutuhan bahan pokok sehari-hari tinggi maka dari itu banyak warga saya mengalihkan profesinya baik menjadi kuli batu pecah dan sebagainya,” tandasnya. (ain)











