Manchester, Sumselupdate.com – Sukses Louis van Gaal memberikan trofi Piala FA untuk Manchester United (MU) pada akhir pekan kemarin ternyata tidak mampu menyelamatkan kariernya di Old Trafford. MU telah memecat Van Gaal sebagai manajer, Selasa dinihari WIB (24/5/2016).
Sebagai penggantinya, klub berjuluk Setan Merah ini siap menyodorkan tanggung jawabnya kepada Jose Mourinho yang akan diumumkan pada Selasa (24/5) waktu setempat.
Tapi, apakah yang menjadi kesalahan pelatih asal Belanda itu di mata manajemen dan fans Manchester United? Dilansir oleh Antara yang mengutip laporan Sky Sports, berikut 7 kesalahan Van Gaal.
1. Salah transfer pemain
MU mengeluarkan dana luar biasa besar 250 juta pound (Rp4,89 triliun) setelah menunjuk Van Gaal sebagai pelatih dengan mendatangkan beberapa pemain mahal. Investasi sebesar itu menuntut penaksiran kembali ekspektasi di Old Trafford setelah masa merana 2013/2014 di bawah David Moyes, namun Van Gaal justru tidak mampu memadukan dan meracik pada pemain mahal itu.
Sebaliknya dari 13 pemain baru yang direkrut Van Gaal, hanya Luke Shaw (ketika bugar) dan Anthony Martial yang selalu menjadi starter, sedangakan para pemain baru seperti Ander Herrera, Morgan Schneiderlin, Marcos Rojo dan Memphis Depay malah keluar masuk tim padahal harga mereka tinggi sekali.
2. Salah posisikan Wayne Rooney
Wayne Rooney memang mencetak gol pada pertandingan terakhir Louis Van Gaal di Liga Primer Inggris, namun performa gol yang buruk dari kapten Manchester United pada musim 2015/2016 adalah faktor besar yang membuat tim kepayahan selama musim itu.
Kendati Rooney hanya mencetak dua gol sebelum pergantian tahun, Van Gaal tetap saja menunjuk dia sebagai ujung tombak pada saat si striker mahal Anthony Martial bermain lebih melebar.
3. Salah seleksi tim
Sikap ngotot van Gaal memosisikan Rooney adalah salah satu dari banyak keputusan membingungkan saat seleksi tim. Line-up dia secara menjengkelkan tidak konsisten dan kerap sulit menarik logika di balik pilihan-pilihan Van Gaal.
Van Gaal terlihat tidak pernah yakin pada susunan tim terbaiknya sampai pertandingan terakhirnya. Juan Mata dan Martial sering bermain di luar posisi seharusnya, sedangkan para pemain seperti Herrera dan Schneiderlin sering dibangkucadangkan atau sama sekali tidak dipakai.
4. Gonta ganti 33 pemain
MU memasang 33 pemain berbeda pada Liga Utama Inggris musim 2015/2016, hanya kalah satu pemain dari Liverpool (34). Pada laga vital Liga Champions melawan Wolfsburg, pemain baru si remaja Cameron Borthwick-Jackson malah ditaruh di bek kiri di belakang Ashley Young, salah satu pemain terbaik Van Gaal musim lalu.
Ketidakberpengalaman timnya dalam mencetak gol malam itu, justru dijawab van Gaal dengan memasukkan Nick Powell yang sama sekali tidak pernah bermain sejak Agustus tahun lalu. Young sendiri ditempatkan di bek kiri, sayap kiri, bek kanan, sayap kanan dan striker selama musim 2015/2016.
5. Gaya bermain
Gaya bermain muluk-muluk MU pada era Van Gaal telah menjadi bahan perdebatan besar di kalangan penggemar yang sering terlihat frustasi dengan acap berteriak “serang, serang, serang” di Old Trafford.
Kesetiaan Van Gaal kepada “penguasaan bola” memang membuat mereka menjadi tim dengan rata-rata penguasaan bola tertinggi di Liga Primer Inggris, namun United juga terjerembab pada rekor mencetak gol paling sedikit pada musim ini dengan 49 kali mencetak gol. Hanya Watford, Aston Villa dan West Brom yang menciptakan peluang gol yang kurang sedikit dari MU.
6. Tumpul di depan gawang
Manchester United hanya 49 kali mencetak gol pada musim ini atau catatan gol paling rendah dalam sejarah klub ini.
Penampilan di kandang kerap buruk di mana United menciptakan gol yang paling sedikit selama berkiprah di Liga Primer Inggris. Pertandingan seri tanpa gol melawan City Oktober tahun ini adalah yang pertama kali sejak musim 2003/2004 mereka tidak menciptakan peluang menyasar target (on target) pada sebuah babak pertama Liga Primer.
Dan saat melawan West Ham Mei lalu, pada pertandingan yang secara realistis seharusnya dimenangkan MU untuk finis pada urutan empat, MU hanya melepaskan dua tendangan mengarah gawang selama 90 menit pertandingan.
Penampilan statis dan tidak imajinatif adalah sulit diterima oleh pendukung yang sudah terbiasa dengan gaya menyerang MU yang dipraktikkan selama era Sir Alex Ferguson.
7. Bicara transisi
Van Gaal tidak membuat situasi lebih baik dengan berkomentar dalam berbagai jumpa pers dan wawancara, khususnya saat dia merujuk kejayaan United, “Mereka bilang sebuah klub seperti Manchester United harus menang. Itu masa lalu,” kata dia Desember tahun silam.
Setelah pertandingan terakhir liga memastikan MU finis pada urutan lima, van Gaal menyampaikan sebuah pesan kepada penggemar United yang kemudian mengejeknya, “Mereka berharap banyak tetapi saya kira harapan itu terlalu banyak, dan kami adalah tim dalam transisi.” (adm3/Rep)











