Banyuasin, Sumselupdate.com -Kabupaten Banyuasin tahun ini mendapat investasi limbah sabut kelapa di kawasan Tanjung Api-Api (TAA) yang nilainya Rp5 miliar.
Bupati Banyuasin H Yan Anton Ferdian saat bertemu Ketua Umum Asosiasi Sabut Kelapa Indonesia (ASKI), Efli Ramli didampingi Ketua Umum Kadin Indonesia, H Eddy Ganefo di ruang kerja Bupati Banyuasin, Rabu (24/2).
Turut hadir Kepala Badan Perizinan Terpadu Pemkab Banyuasin, Ali Imron, Asisten II Pemkab Banyuasin, Rislani.
Menurut Yan, pihaknya sangat menyambut baik investasi ini dan setuju bahkan mereka memiliki lokasi untuk industri tersebut di TAA. “Kami mendukung rencana tersebut,” kata Yan.
Yan berjanji akan memberikan kemudahan dalam berinvestasi di Banyuasin termasuk perizinan, infrastruktur juga dan Banyuasin akan mendapatkan pendapatan asli daerah dari investasi ini.
Ketua Umum Asosiasi Sabut Kelapa Indonesia (ASKI), Efli Ramli mengatakan, pihaknya akan mengembangkan sabut kelapa di pesisir Banyuasin sehingga bisa mengurangi pengangguran, kemiskinan meningkatkan ekonomi rakyat dan pemberdayaan limbah menjadi peluang.
“Kami sendiri sudah ada lokasi untuk pengembangan sabut kelapa di TAA deket sungai untuk pencucian dan sarana transportasi yang luasnya 10 hektar,’ katanya.
Selain itu pihaknya mulai penghitungan dan membuat pabrik kecil untuk UKM dan pelatihan tenaga kerja, karena dari UKM sabut kelapa ini maka akan terbentuk UKM bisa di buat keset kaki, tali tambang, fiber, coco peat ( media tanam).
Dari limbah sabut kelapa ini, kata dia dapat diolah menjadi matras, tali tambang, coco pit (media tanam) dan sebagainya.
“Kemampuan Indonesia saat ini baru bisa menutup 15 persen kebutuhan dunia, sementara produksi sabut kelapa ini bisa mencapai 15 triliun rupiah pertahun seluruh Indonesia,” katanya
Selain itu, Kadin Indonesia telah menyiapkan lima mesin pengolah sabut kelapa untuk menjadikan kawasan Tanjung Api-api sebagai kawasan industri percontohan sabut kelapa.
Sedangkan Ketua Umum Kadin Indonesia, H Eddy Ganefo menambahkan berdasarkan hasil survei pihaknya kalau Banyuasin terutama di TAA layak dikembangkan usaha kara (santan kelapa).
April tahun ini menurutnya pemanfaatan limbah sabut kelapa menjadi produksi turunan bisa berjalan. Sehingga usai lebaran ekspor limbah sabut kelapa bisa dilakukan.
“Hasilnya bisa dalam waktu dekat karena setelah lebaran bisa ekspor. Target tahap pertama akan nurunkan lima mesin untuk 5 industri. Per industri berjarak 20 km. Paling tidak menyerap tenaga kerja 600 orang. 5 kali 120,” kata Eddy Ganefo. (erk)











