Jakarta, Sumselupdate.com – Gerhana Matahari Total (GMT) diperkirakan terjadi pada 2 Agustus 2027 dengan durasi totalitas maksimum mencapai 6 menit 23 detik. Fenomena astronomi ini menjadi perhatian karena durasinya yang panjang dan jalur lintasannya melintasi sejumlah wilayah di Eropa Selatan, Afrika Utara, hingga Timur Tengah.
Mengutip Space, Minggu (11/10/2026), durasi totalitas tersebut menjadikan gerhana pada 2027 sebagai salah satu fenomena gerhana Matahari dengan fase total terpanjang dalam beberapa dekade.
Durasi totalitas serupa diperkirakan baru akan kembali terjadi pada 12 Agustus 2045, ketika fase total gerhana Matahari diprediksi berlangsung hingga 6 menit 6 detik di wilayah dekat Florida, Amerika Serikat.
Saat fase totalitas berlangsung, Bulan akan menutupi seluruh piringan Matahari sehingga langit di wilayah yang dilintasi jalur totalitas dapat menjadi gelap selama beberapa menit. Gerhana Matahari Sebagian juga dapat diamati di wilayah yang lebih luas, sebelum dan sesudah fase totalitas.
Melintasi Eropa, Afrika, hingga Timur Tengah
Jalur Gerhana Matahari Total pada 2 Agustus 2027 membentang dari Samudra Atlantik menuju Eropa Selatan, Afrika Utara, dan Timur Tengah.
Sejumlah wilayah yang berada di jalur totalitas meliputi Spanyol, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Sudan, Arab Saudi, Yaman, Somalia, hingga Kepulauan Chagos.
Lebar jalur totalitas diperkirakan mencapai sekitar 258 kilometer pada bagian terlebarnya. Namun, durasi dan kondisi pengamatan akan berbeda-beda bergantung pada lokasi pengamat di sepanjang lintasan tersebut.
Luxor, Mesir, menjadi salah satu lokasi yang dipertimbangkan untuk menyaksikan fenomena ini karena berada di jalur gerhana total. Spanyol, Maroko, dan Aljazair juga menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin mengamati peristiwa astronomi tersebut.
Bagaimana Gerhana Matahari Total Terjadi?
Gerhana Matahari Total terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, sehingga piringan Matahari tertutup sepenuhnya dari sudut pandang pengamat yang berada di jalur totalitas.
Selama fase totalitas, pengamat di jalur tersebut dapat melihat bagian luar atmosfer Matahari yang dikenal sebagai korona. Fenomena ini hanya berlangsung selama Bulan menutupi seluruh piringan Matahari.
Di luar jalur totalitas, masyarakat masih dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian, yakni ketika hanya sebagian piringan Matahari tertutup oleh Bulan.
Jangan Melihat Matahari Tanpa Pelindung
Masyarakat yang ingin mengamati gerhana diimbau memperhatikan keselamatan mata. Selama fase gerhana sebagian, Matahari tidak boleh dilihat secara langsung dengan mata telanjang.
Gunakan kacamata khusus gerhana Matahari yang memenuhi standar keselamatan atau alat pengamatan Matahari dengan filter surya yang sesuai. Kacamata hitam biasa tidak dapat melindungi mata dari paparan sinar Matahari secara aman.
Pengamatan tanpa pelindung yang tepat dapat menyebabkan kerusakan mata serius. Pengecualian hanya berlaku selama fase totalitas yang benar-benar sempurna, ketika seluruh piringan Matahari tertutup Bulan, dan pengamat berada di jalur totalitas. Pelindung mata harus kembali digunakan sebelum Matahari mulai terlihat lagi.
Fenomena pada 2 Agustus 2027 tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat di wilayah lintasan untuk menyaksikan salah satu peristiwa astronomi paling menarik, dengan tetap memperhatikan lokasi, cuaca, dan keselamatan selama pengamatan.
(**)







