Palembang, Sumselupdate.com – CEO Lembaga Riset IT Research Politic Consultant (iPOL) Indonesia, Petrus Haryanto mengatakan, jika adanya pandemi Covid-19 ini memunculkan strategi bagi bakal calon kepala daerah yang akan bertarung nantinya, dengan memanfaatkan waktu, anggaran yang sedikit namun cepat, tepat dan efektif, khususnya kampanye secara digital.
“Jelas kandidat harus menjadi kreatif dan cepat, dengan mengemas yang sesederhana menjadi kampanye yang sesuai target. Sudah saatnya di era saat ini memanfaatkan waktu yang pendek lebih murah dengan kemampuan mengemas,” ujar Petrus.
Di mana, saat ini pemilu diungkapkan Petrus cenderung memasuki era 4.4.0 digitalisasi dan persoalan di tengah pandemi Covid-19, bisa menjadikan kompetensi dalam perpolitikan jadi efektif, efisiens. Sehingga balonkada harus mengikuti bagaimana selain regulasi juga mengikuti trend.
“Sekarang era digital campaign, dan teknologi politik. Artinya yang terbatas dimana massa kampanye dan pencoblosan tidak terlalu lama,” terangnya.
Diterangkan Petrus, dengan status sebagian daerah pandemi sudah berstatus PSBB saat ini, dan meluas diberbagai wilayah secara estimasi, ia memprediksi akan ada kecenderungan bisa jadi Pilkada yang dijadwalkan pasa 9 Desember 2020 akan kembali diundur, dan jelas tidak menguntungkan para petahana.
“Jelas saat ini petahana menurut. Kami masih diuntungkan jika Pilkada masih dilaksanakan pada 9 Desember 2020, karena jarak rentan waktunya pendek. Namun semua tetap bisa terjadi, siapa yang cepat, tepat, cerdas, smart dan mendekatkan diri kepada masyarakat atau pemilihnya secara psikologis melalui digital campaingn dan kualitas konten/campaign,” tuturnya.
Di mana dibeberkan Petrus, nantinya hal ini akan memiliki efeck, ketika dipublikasikan atau diviralkan di medsos, sehingga masyarakat akan merasa tersapa dengan balon kepala daerah.
“Sesunggunya, dalam kontestasi yang bukan saja merebut kemenangan tetapi setiap kepala daerah dan timnya dituntut untuk cerdas, saat regulasi daru KPU yang akan turun itu, mereka sudah siap,” ujarnya.
Soal kesiapan bakal calon kepala daerah diluar petahana, ia menilai sosialisasi atay campaignnya masih cenderung menoton dan terlihat akan gampang kalah nantinya.
“Namanya kontestasi, ada petahana atau tidak, siapa yang bisa menghadirkan kecepatan, smart dan pemetaan spesifik, serta kemampuan campaign melalui teknologi, akan sangat membantu, dan inilah konsekuensi yang dihadapi saat pandemi ini, dan kandidat atau timnya harus efektik di era campaign yang lagi trend saat ini,” tandasnya.
Ditambahkan Petrus, moment kampanye, bisa dianggap pertarungan ide dan perkenalan kepadq masyarakat.
Apalagi sebagai kandidat, harus menjadi orang sadar betul WFH (Work For Home), dengan tetap harus jadi kreatif dan tercepat.
“Sudah saatnya era sekarang memanfaatkan waktu pendek, serta smart dalam mengemas, tidak hanya konten tapi tim mempresentansikan kandidatnya .Jadi mulai mendekati diri secara smart, dengan menyapa pada moment menganjurkan membatasi keluar rumah saat ini,” pungkasnya. (tra)











