Laporan: Endang Saputra
Muaraenim, Sumselupdate.com – Musim kemarau panjang yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia berimbas meningkatnya pasien penyakit muntah berak (muntaber) diare dan batuk pilek disertai ISPA.
Kepala Dinas Kesehatan Muaraenim Eni Zatila, Selasa (17/10/2023) mengakui, jika di Muaraenim mengalami peningkatan kasus penyakit muntaber, diare, batuk pilek disertai ISPA.
Menurutnya, ratusan pasien ini didominasi anak-anak dan balita. “Dari data yang kami himpun pada gejala diare tiga bulan terakhir mengalami peningkatan. Pada bulan Juli sebanyak 487 orang, kemudian pada Agustus sempat mengalami penurunan sebanyak 482 orang kemudian pada bulan September mengalami peningkatan dua kali lipat sebanyak 805 orang mengalami gejala diare,” ungkapnya.
Dikatakannya, wabah penyakit muntaber, batuk pilek, dan ISPA disebabkan oleh adanya perubahan cuaca pada musim kemarau yang panjang.
Baca Juga: Belajar Tatap Muka Dimulai Kembali di Palembang
Maka dari itu, dia berharap masyarakat pada musim kemarau saat ini agar dapat menjaga pola kesehatan dengan baik serta saat hendak akan berpergian keluar rumah dapat menggunakan masker, dan memperbanyak minum air putih.
“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk dapat menggunakan masker saat keluar rumah saat hendak bepergian dan memperbanyak minum air putih serta dapat menjaga pola makan yang sehat dan apa bila terdapat gejala tanda-tanda penyakit diare, segera mendatangi puskesmas terdekat,” imbaunya.
Sementara itu, Dirut RSUD HM Rabain Muaraenim dr Ibnu Umar menerangkan pada saat ini pihaknya menerima pasien rujukan puskesmas maupun rujukan rawat jalan dengan gejala penyakit muntaber dan diare.
Baca Juga: Ribuan Pelayat Antar Jenazah Habib Mahdi ke Pemakaman
“Kalau untuk wabah diare memang ada peningkatan didominasi oleh pasien anak-anak dan balita. Kemudian untuk pada kasus ISPA terdata masih di atas normal,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu orang tua dari pasien muntaber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan rasa cemas dan prihatin kepada anaknya yang terjangkit penyakit muntaber.
Kendati demikian, dia berharap pemerintah dapat lebih tanggap dan dapat mengambil langkah-langkah dalam upaya pencegahan wabah penyakit muntaber ini.
“Takut sekali pak, apa lagi sakit ini bisa membuat dehidrasi buat anak, kami juga bingung idak dapat kebagian ruangan rawat inap karena penuh oleh pasien anak, terpaksa harus rawat jalan. Dan, kami juga berharap kepada pemerintah agar dapat mencari solusi dalam upayah pencegahan wabah penyakit Muntahber ini,” pungkasnya. (**)











