Kualitas Udara Palembang Masih Berbahaya, Bayi 5 Bulan Dikeluhkan Sesak Napas

Writer: - Sabtu, 10 Oktober 2026
Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, masih memburuk pada Sabtu (10/10/2026) dini hari. Tingginya polusi udara meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi bayi, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya. (Foto: Sumselupdate.com/Fitria NIngsih)

Palembang, Sumselupdate.com – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, masih berada pada tingkat berbahaya pada Sabtu (10/10/2026) dini hari. Tingginya polusi udara memicu kekhawatiran warga, terutama terhadap kesehatan bayi dan anak-anak yang rentan mengalami gangguan pernapasan.

Berdasarkan data pemantauan IQAir yang dihimpun sejak pukul 00.00 WIB hingga 04.00 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di sejumlah wilayah Palembang tercatat sangat tinggi.

Read More

Kawasan Musi 2 dilaporkan mencapai AQI 743, sedangkan Bukit Unsri berada di angka 388 dan Demang Lebar Daun mencapai 332.

Pemantauan lainnya mencatat AQI kawasan Sukarami mencapai 410. Sementara itu, data pengukuran berbeda mencatat kawasan Bukit mencapai 481, Demang Lebar Daun 414, dan Musi 2 sebesar 253.

Perbedaan angka tersebut perlu dicermati karena waktu pengukuran dan sumber data dapat berbeda. Data yang disertai lokasi, waktu pengukuran, dan sumber pemantauan diperlukan untuk menggambarkan kondisi kualitas udara secara akurat.

Bayi Lima Bulan Dikeluhkan Sesak Napas

Di tengah buruknya kualitas udara, kekhawatiran dirasakan Anny, salah seorang warga Palembang yang memiliki bayi berusia lima bulan.

Anny mengaku bayinya kerap mengalami sesak napas dan demam. Padahal, keluarganya telah menggunakan alat pemurni udara atau air purifier di rumah.

“Bayi saya jadi sering sesak napas, demam. Padahal rumah sudah pakai air purifier. Kita saja yang dewasa sesak, apalagi bayi,” keluh Anny.

Keluhan tersebut menambah kekhawatiran keluarga terhadap kondisi kesehatan bayi di tengah pencemaran udara yang melanda Palembang.

Meski demikian, hubungan antara keluhan yang dialami bayi dan paparan polusi udara belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan medis. Sesak napas dan demam pada bayi perlu mendapat perhatian serius karena dapat disebabkan berbagai kondisi kesehatan.

Warga Diimbau Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Polusi partikel halus seperti PM2.5 dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama pada kelompok rentan, termasuk bayi, anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Warga juga dapat membatasi masuknya udara luar yang tercemar ke dalam rumah serta menggunakan alat penyaring udara jika tersedia.

Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus dapat menjadi perlindungan tambahan bagi orang yang harus beraktivitas di luar ruangan. Namun, masker tidak boleh digunakan pada bayi karena berisiko mengganggu pernapasan.

Orang tua perlu segera membawa bayi ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, napas cepat atau tampak bekerja keras, kesulitan menyusu, maupun bibir dan wajah kebiruan. Jangan menunda pertolongan medis untuk menunggu kondisi udara membaik.

Sementara itu, angka konsentrasi PM2.5 sebesar 402 yang disebutkan dalam data pemantauan perlu disertai satuan, waktu pengukuran, dan sumbernya agar dapat ditafsirkan secara tepat.

Adapun informasi mengenai belasan ribu warga Palembang yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) perlu dikonfirmasi melalui data resmi instansi kesehatan, termasuk periode pencatatan dan jumlah kasus yang dimaksud.

Pemantauan kualitas udara dan penanganan sumber pencemaran menjadi penting untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat. Di tengah kondisi tersebut, warga diharapkan mengikuti informasi resmi dari instansi terkait dan mengambil langkah perlindungan sesuai kondisi masing-masing.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts