Palembang, Sumselupdate.com – Kualitas udara di Kota Palembang masih berada pada level berbahaya pada Kamis (15/10/2026) siang. Berdasarkan pantauan pukul 14.00 WIB, lima wilayah di Palembang mencatat indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) di atas 450.
Data tersebut menunjukkan kondisi udara di sejumlah kawasan masih sangat buruk di tengah kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang sejak pagi hingga siang hari.
Wilayah dengan kualitas udara terburuk tercatat di Musi Dua dengan AQI mencapai 648. Sementara itu, Universitas Sriwijaya mencatat angka 502, Sukarami 481, Demang Lebar Daun 465, dan GP Palembang 461.
Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat tingginya tingkat pencemaran udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Palembang merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
“Memang benar ini merupakan kabut asap paling parah, bahkan termasuk sepanjang sejarah di Sumsel. Dari pantauan kami, kondisi ini diakibatkan karena masih adanya kebakaran hutan dan lahan yang mengakibatkan kabut asap dan terbawa ke Kota Palembang,” kata Siswanto, Kamis (15/10/2026).
Menurut Siswanto, kondisi atmosfer pada pagi hari turut memengaruhi tingkat kepekatan asap di permukaan. Suhu udara yang lebih dingin membuat partikel asap cenderung terkonsentrasi di dekat permukaan tanah sehingga memperburuk jarak pandang.
“Kondisi yang memperparah jarak pandang, kalau pagi kan kondisi dingin dan partikel ini lebih termampatkan di level permukaan. Nanti saat matahari sudah mulai muncul baru berangsur terurai dan berkurang,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat masih harus menunggu datangnya hujan yang diharapkan dapat membantu mengurangi kabut asap. BMKG memperkirakan hujan berpotensi turun di Sumatera Selatan pada pertengahan hingga akhir November 2026.
“Kalau pantauan dan perkiraan kita, hujan baru akan terjadi pada pertengahan November, bahkan pada akhir bulan,” ungkap Siswanto.
BMKG juga berharap hujan dapat turun lebih cepat melalui upaya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, pelaksanaan operasi tersebut menghadapi kendala karena kondisi atmosfer belum mendukung pembentukan hujan.
Siswanto mengatakan OMC yang dilakukan di wilayah Bangka Belitung sempat dihentikan sementara karena belum tersedianya kondisi cuaca yang sepenuhnya mendukung.
“Kita berharap hujan lebih cepat. Kita juga mendorong dengan OMC yang saat ini dilakukan di Babel, tetapi kemarin sementara kita hentikan karena kondisi cuaca belum sepenuhnya mendukung,” tuturnya.
Dengan kualitas udara yang masih berada pada level berbahaya di lima wilayah, masyarakat Palembang diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel halus, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau gangguan kesehatan lainnya.
(**)







