Palembang, Sumselupdate.com – Noval Pamenangan (16), pelajar SMKN Sumsel yang selamat dari insiden pengeroyokan di kawasan Bukit Kecil, Palembang, kini harus menjalani pemulihan setelah mengalami luka serius di bagian leher. Sementara itu, keluarganya masih menanggung utang biaya pengobatan sebesar Rp39,5 juta kepada Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang.
Noval merupakan korban pengeroyokan yang juga menewaskan rekannya, Ahmad Miftahudin (22), warga Lampung. Dalam peristiwa tersebut, Noval mengalami luka sayatan di leher hingga harus menjalani operasi.
Setelah menjalani perawatan, Noval telah diperbolehkan pulang dari RSMH Palembang. Namun, kondisi tubuhnya belum sepenuhnya pulih sehingga aktivitasnya masih terbatas.
Di tengah proses pemulihan tersebut, keluarga Noval dihadapkan pada persoalan biaya pengobatan yang belum terlunasi. Dari total biaya operasi sekitar Rp42 juta, orang tuanya baru mampu membayar Rp2,5 juta.
“Pulang sudah tiga hari kemarin. Biaya operasi sekitar Rp42 juta, tetapi kami hanya bisa bayar Rp2,5 juta. Jadi, kami menjaminkan kartu keluarga dan KTP di RSMH,” ujar Supri, ayah Noval, saat ditemui di kediamannya.
Sisa biaya pengobatan sebesar Rp39,5 juta menjadi beban berat bagi Supri dan istrinya, Siti Juariah. Keduanya berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Supri bekerja sebagai buruh harian lepas, sedangkan istrinya berjualan keripik untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Kondisi ekonomi keluarga tersebut juga terlihat dari keterangan yang terpasang di dinding rumah mereka di Jalan Bagelan, Lorong Cempaka, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Sako, Palembang.
Kini, orang tua Noval masih berupaya mencari jalan keluar untuk melunasi biaya pengobatan anak semata wayang mereka.
Dituduh Mencuri Motor Sebelum Dikeroyok
Noval turut menceritakan kembali peristiwa yang menyebabkan dirinya mengalami luka serius dan rekannya meninggal dunia.
Menurut Noval, saat kejadian, ia bersama Ahmad baru pulang dari rumah seorang teman. Ketika melintas di lokasi kejadian, sepeda motor yang mereka kendarai tiba-tiba mogok.
Tidak lama kemudian, sekelompok orang yang tidak dikenal menghampiri mereka dan menuduh keduanya melakukan pencurian sepeda motor. Situasi tersebut kemudian berujung pada perkelahian.
Noval menyebut kelompok yang mendatangi mereka berjumlah lebih dari delapan orang. Ia juga mengaku melihat sejumlah orang mengeluarkan senjata tajam dari pinggang mereka.
“Dari tiga yang sudah tertangkap, salah satunya yang memukul saya. Saya lihat mereka memang mengeluarkan senjata tajam dari pinggang,” kata Noval.
Keterangan tersebut merupakan penuturan korban. Adapun proses hukum atas kasus pengeroyokan yang menewaskan Ahmad dan melukai Noval masih menjadi perhatian pihak pendamping hukum korban.
Tim Hukum Minta Pemerintah Bantu Biaya Pengobatan
Tim hukum CPP yang mendampingi korban berencana membuat laporan tambahan terkait peristiwa pengeroyokan tersebut.
Di sisi lain, Dr. Conie Pania Putri, SH, MH, berharap kondisi yang dialami Noval dan keluarganya mendapat perhatian pemerintah daerah serta pihak-pihak yang dapat membantu meringankan beban biaya pengobatan.
“Kami mengetuk hati pemerintah terkait, Wali Kota Palembang, Gubernur Sumsel, Baznas dan instansi terkait, agar dapat membantu pembiayaan rumah sakit klien kami,” tutur Conie.
Ia menjelaskan, keluarga Noval saat ini benar-benar membutuhkan dukungan karena kondisi ekonomi yang terbatas. Ayah Noval bekerja serabutan, sementara ibunya berjualan keripik. Namun, menurut Conie, ayah Noval saat ini belum mendapatkan pekerjaan.
Conie menyampaikan bahwa masyarakat yang ingin membantu biaya pengobatan Noval dapat menghubungi pihak keluarga atau datang langsung ke kediaman korban.
“Nanti bisa langsung ke kontak klien kami atau bisa juga mendatangi kediamannya. Besar kecil bantuan sangatlah berharga, karena keluarga korban tergolong ekonomi ke bawah,” ujarnya.
Keluarga berharap bantuan dari pemerintah maupun masyarakat dapat meringankan beban biaya pengobatan sehingga Noval bisa menjalani pemulihan dengan lebih tenang setelah mengalami peristiwa yang merenggut nyawa rekannya tersebut.
(**)







