Komisi X DPR Minta Sekolah Perkuat Pendidikan Karakter

Writer: - Kamis, 20 November 2025
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti. (Foto; Sumselupdate.com/Humas DPR RI).

Pontianak, Sumselupdate.com – Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayanti, menyoroti serius insiden ledakan bom rakitan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara yang dilakukan  seorang siswa di bawah umur.

Esti menilai kejadian ini menjadi alarm penting bagi sekolah dan para pendidik untuk memperkuat pendidikan karakter sekaligus memastikan tersedianya ruang aman bagi anak-anak, khususnya mereka yang rentan menjadi korban perundungan.

Read More

“Karena anak-anak itu punya kekhususan yang memang harus diperhatikan guru. Di samping informasinya juga dari keluarga broken home. Dari kasus ini, kalau melihat dari kasus bullying-nya, maka  sekolah perlu  menyelipkan hal-hal berkaitan dengan bagaimana interaksi sosial dengan kawan-kawannya,” ujar Esti di sela-sela Kunjungan Kerja Bidang Pendidikan Komisi X di Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (19/11/2025).

Esti menjelaskan, pendidikan adab dan etika dasar harus menjadi bagian dari keseharian di sekolah, bukan hanya wacana atau materi tambahan.

“Bagaimana berinteraksi antara anak yang satu dengan anak lain. Bagaimana diajarkan adab untuk tidak menghina. Bagaimana diajarkan adab untuk berkata-kata yang baik,” tuturnya.

Dia mengingat kembali nilai-nilai sederhana yang dulu diajarkan di sekolah, seperti sikap sopan terhadap guru atau  menjaga kebersihan lingkungan belajar.

Praktik itu bukan sesuatu yang kuno, melainkan pondasi pembentukan karakter. “Dulu kita bisa melihat bagaimana orang lewat di depan guru permisi, pak bu membawakan tas dan yang lain. Itu sesuatu yang kuno orang melihat. Tapi itu penting,” katanya.

Esti mencontohkan negara lain yang terus menanamkan etika dasar dalam kehidupan publik, bahkan sekadar mengucapkan terima kasih kepada pengendara yang berhenti di zebra cross.

Nilai-nilai tersebut, sangat mudah diajarkan mulai dari satuan pendidikan usia dini hingga pendidikan dasar.

“Tidak perlu tambahan mata kuliah, tetapi kita ajarkan di sekolah dalam keseharian. Bagaimana ketika bapak ibu guru datang, selamat pagi bapak ibu,” katanya.

Politisi Fraksi PDI-Perjuangan itu menambahkan, pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, melainkan juga orang tua. Persepsi sebagian orang tua bahwa anak tidak perlu dilibatkan dalam tugas kebersihan sekolah dinilai keliru.

“Kadang orang tua bilang, anakku saya sekolahkan di situ karena aku tidak ingin, bukan berarti anakku boleh ikut membersihkan toilet. Tidak. Ini sesuatu yang memang harus diajarkan,” katanya.

Esti menekankan kemandirian, etika dan moral Pancasila perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda tumbuh sebagai pribadi tangguh dan berkarakter.

“Mengapa tidak kita ajarkan ke anak kita supaya  bisa mandiri? Melalui pendidikan karakter. Melalui pendidikan bagaimana bersikap, beretika dan bermoral Pancasila, untuk mengatakan  kita melahirkan anak-anak yang berpendidikan Pancasila,” tegasnya.

(**)

 

 

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts