Kasus Perizinan Terminal TAA Berbuntut Panjang, Effendi Chandra Digugat Wanprestasi  

Kuasa Hukum Yusmah Reza, Sapriadi Syamsuddin, SH.

Laporan: Diaz Erlangga

Palembang, Sumselupdate.com –  Buntut kasus dugaan penipuan dan penggelapan pengurusan izin terminal khusus di Tanjung Api Api (TAA), kuasa hukum tersangka Yusmah Reza (39) angkat bicara.

Read More

Di mana Yusmah Resa melalui kuasa hukumnya melayangkan gugatan wanprestasi (cidera janji –red) kepada Effendi Chandra.

Kuasa Hukum Yusmah Reza, Sapriadi Syamsuddin, SH menjelaskan pihaknya telah melakukan gugatan terhadap Effendi Chandra (65) dengan nomor register perkara yang tercatat di PN Klas IA Palembang No 296 tertanggal 13 Desember 2021.

Sedangkan penetapan Yusmah Reza sebagai tersangka oleh penyidik Polda Sumsel tetanggal 15 Desember 2021.

Yang digugat sendiri Effendi Chandra  adalah pelapor dalam kasus dugaan penipuan dan penggelapan senilai total Rp1,7 miliar.

Di mana kasusnya tengah ditangani penyidik unit 2 Subdit III Jatanras Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Selatan (Sumsel).

“Saat ini gugatan yang kami layangkan ke PN Klas IA Palembang masuk tahap mediasi,” ungkap Sapriadi di kantornya, Kamis (24/3/2022).

Meski begitu Sapriadi justru mempertanyakan kenapa di tengah berjalannya proses sidang gugatan perdata, tiba-tiba penyidik melanjutkan proses penyidikan dengan menetapkan kliennya sebagai tersangka.

“Sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku apabila proses gugatan perdata dalam kasus yang sama tengah diproses. Untuk perkara pidananya dihentikan terlebih dulu dengan tetap mengedepankan azas praduga tak bersalah,” ujarnya.

Lebih lanjut Sapriadi menjelaskan wanprestasi yang dimaksud menurut kliennya dari biaya pengurusan perizinan sebesar Rp800 juta sebagai uang titipan.

Dari jumlah uang tersebut ada sisa pengurusan izin sebesar Rp500 juta. Di mana, 20 persen di antaranya disepakati kedua belah pihak sebagai comitment fee kepada kliennya.

Masih di dalam surat perjanjian yang ditandatangani kedua belah pihak, selama  proses pengurusan perizinan, pihak PT Musi Perkasa tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan bongkar muat.

Apabila perjanjian itu dilanggar maka uang titipan tersebut hangus.

“Ternyata dalam perjalanannya selama proses pengurusan izin terjadi pelanggaran terkait bongkar muat. Maka sesuai isi perjanjian seharusnya uang titipan tersebut hangus,” sebut Sapriadi.

Namun yang terjadi uang tersebut masih ditagih Effendi yang kemudian dijadikan dasar penyidik menetapkan kliennya sebagai tersangka penggelapan uang sebesar Rp649 juta

Secara umum Sapriadi menilai dalam perkara ini terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak. Dengan obyek pengurusan izin terminal dermaga di TAA.

“Kita hormati hukum tuduhan dan sangkaan tersebut harus terlebih dulu dibuktikan. Kami akan melakukan langkah-langkah normatif dan konkret karena antara peristiwa perdata dan pidana obyeknya sama,” pungkasnya. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.