Anggota Komisi VII DPR Sebut Dampak Banjir Impor, Industri Hilir Melemah

Writer: - Senin, 24 November 2025
Anggota Komisi VII DPR RI, Tifatul Sembiring. (Foto; Sumselupdate.com/Humas DPR RI).

Cilegon, Sumselupdate.com – Gelombang penutupan industri dalam negeri masih terjadi dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari tekstil hingga elektronik.

Kondisi ini bukan hanya memengaruhi sektor hilir, tetapi juga industri hulu seperti petrokimia yang memasok bahan baku utama bagi manufaktur nasional. Anggota Komisi VII DPR RI, Tifatul Sembiring, saat meninjau operasional PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon, Banten menyoroti hal tersebut.

Read More

“Ada nggak pengaruhnya serapan daripada pengguna produk dari Lotte Chemical ini dengan terjadinya masalah tersebut? Bahkan tahun lalu PHK itu hampir dua juta orang  lebih. Dengan menurunnya produksi dalam negeri ada nggak terindikasi  penurunan permintaan produk daripada chemical ini?” tanya Tifatul, Jumat (21/11/2025).

Menanggapi hal itu, perwakilan PT LCI, Jojok Hardijanto tidak secara langsung menguraikan dampak bangkrutnya sejumlah industri terhadap serapan produknya. Namun ia memaparkan beberapa tantangan besar yang tengah dihadapi industri petrokimia dan industri nasional secara keseluruhan.

Salah satunya bea masuk terhadap LPG sebagai bahan baku utama industri petrokimia membuat harga produk dalam negeri kurang kompetitif dibanding produk impor.

Selain beban biaya produksi, Jojok juga menyoroti derasnya masuk barang impor dengan harga murah, terutama ketika terjadi praktik dumping.

Kondisi itu, membuat persaingan menjadi tidak seimbang antara produsen lokal dan produk luar negeri yang membanjiri pasar.

“Inilah kami butuh kehadiran dari pemerintah untuk mendukung industri dalam negeri supaya tidak pelan-pelan mati. Dulu sempat keramik hancur, habis itu ada tekstil, ada elektronik nah ini akan berantai terus kalau tidak ada peran impemerintah,” ujar Jojok.

Dia  menambahkan, pelaku industri tidak menuntut perlakuan khusus, tetapi membutuhkan kebijakan yang memastikan iklim usaha berjalan secara adil.

“Mohon support terutama import barrier biar kami mandiri di negeri sendiri. Kami tidak butuh special treatmenttetapi paling nggak kita bisnis dengan fair,” tuurnya.

Usai rapat, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty menyampaikan masukan ini akan dibawa dalam pembahasan formal di ruang Komisi.

Dikatakan, Komisi VII saat ini memiliki Panja Daya Saing Industri yang berfokus pada peningkatan daya saing industri nasional secara lintas sektor.

“Ya  kita akan rapat di komisi  dengan industri terkait. Karena ada kaitannya dengan perdagangan. Ini benar-benar lintas sektoral. Ini karena sifatnya Panja Daya Saing, jadi kita bisa memanggil nanti lintas K/L yang terkait,” kata Evita, ketua Panja Daya Saing Industri.

Masifnya impor pakaian jadi dan kain dalam beberapa tahun terakhir membuat lebih dari 60 perusahaan tekstil kolaps hanya dalam dua tahun.

Di sisi lain, oversupply baja dari China yang tengah menghadapi tarif tinggi dari Amerika Serikat mendorong risiko dumping ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kondisi ini berpotensi menekan harga baja di pasar domestik dan semakin melemahkan pelaku industri lokal.

Jika produk impor terus membanjiri pasar tanpa pengaturan yang memadai, dampaknya tidak hanya dirasakan industri hilir. Industri hulu, termasuk petrokimia yang memasok bahan baku bagi manufaktur juga berisiko kehilangan pasar ketika industri hilir melemah atau tutup.

Hal ini disinyalir mengancam keberlangsungan rantai pasok nasional secara keseluruhan.

(**)

 

 

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts