Banjir Bandang di Kota Bima Terparah 50 Tahun Terakhir

Sabtu, 24 Desember 2016
Dampak banjir bandang di Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. (Lombokkita.com).

Bima, Sumselupdate.com – Walikota Bima, H Qurais H Abidin mengaku banjir yang menerjang hampir seluruh wilayah Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), terparah dalam 50 tahun terakhir.

Bahkan kediamannya yang selama ini tidak pernah banjir juga ikut terendam setinggi satu meter.

Read More

“Ini merupakan banjir yang terbesar dan terparah sejak 50 tahun terkahir,” kata Walikota, Kamis (22/12/2016) seperti dilansir SuaraNTB.com.

Menurut dia, sebelum awal datangnya musibah itu, pihaknya menerima informasi dari BMKG, bahwa akan terjadi badai dan hujan besar. Mendapat laporan itu, pihaknya langsung melakukan rapat koordinasi dengan Camat dan Kelurahan untuk meningkatkan kewaspadaan.

“Hanya tiba-tiba dalam waktu dua jam banjir langsung mengepung Kota Bima,” katanya.

Dia mengaku, terjadinya banjir hampir merata di daerah setempat. Yang tercatat merendam ribuan rumah warga serta fasilitas publik. Saat musibah itu, pihaknya tidak bisa berbuat banyak, memberikan pertolongan lantaran musibah terjadi mendadak.

“Saat itu semua panik, karena banjir datangnya dalam waktu cepat. Bahkan di wilayah yang tidak pernah terjadi, juga tergenang seperti kediaman kami,” katanya.

Sebagaiman diketahui, sehari setelah statement Walikota Bima, H Qurais H Abidin, banjir bandang susulan kembali terjadi di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dalam rilis yang diterima suarantb.com, Jumat (23/12/2016), mengatakan, banjir disebabkan debit sungai Paruga naik dan menggenangi Jatiwangi, Rabasalo, Paruga, Tanjung dan Dara.

Jembatan Padolo miring di bagian ujung sehingga jalan ditutup. Daerah di Pena To’i terendam banjir dan masyarakat melakukan evakuasi kembali. Di lweirato juga terendam banjir.

Sutopo mengatakan sebagian masyarakat kembali mengungsi. Masyarakat yang telah kembali ke rumahnya sibuk membersihkan sisa banjir, sebagian kembali mengungsi kembali karena khawatir banjir akan tinggi lagi. Masyarakat mengungsi ke sejumlah tempat, seperti Masjid Baitul Hamid dan Masjid Agung Kota Bima.

Masa tanggap darurat banjir Bima ditetapkan selama 2 minggu. Dari, Kamis, 22 Desember 2016 hingga 4 Januari 2017.

Sutopo menambahkan, data sementara dari BPBD Kota Bima dilaporkan terdapat 593 rumah rusak berat, 2.400 rumah rusak sedang, 16.226 rumah rusak ringan. Belum ada laporan korban jiwa meninggal. Sedangkan anak yang dilaporkan hilang sebelumnya, ditemukan  dalam kondisi selamat.

Di Kecamatan Rasanae Timur terdapat 4 kelurahan terdampak yaitu Kelurahan Kodo, Kumbe, Lampe, dan Dodu. Di Kelurahan Dodu terdapat 29 KK terdampak, 17 rumah rusak berat, 12 rumah rusak ringan, masjid 1, SD 1, dan 294 hektar sawah rusak, dan 2 jembatan rusak berat.

Di Kecamatan Asakota meliputi Kelurahan Jatiwangi dan Melayu. Di Kecamatan Raba meliputi Kelurahan Rabangodu Selatan dan Kondo. Di Kecamatan Rasanae Barat meliputi Kelurahan Tanjung dan Dara.

Sementara itu, dampak banjir di Desa Maria Utara Kecamatan Wawo Kabupaten Bima terdapat 5 rumah hanyut, 11 rumah rusak berat, 49 rumah rusak ringan. Di Desa Maria terdapat 3 rumah hanyut, 8 rumah rusak berat, dan 8 rusak ringan. (hyd)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts