PALI, Sumselupdate.com – Anjloknya harga komoditas karet di tingkat petani karet di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang menyentuh Rp4.000/kg, menjadi perhatian serius Bupati PALI Heri Amalindo.
Bukan sekedar perhatian biasa, Heri bahkan menelusuri lebih jauh penyebab marjin harga karet yang begitu jauh jika dibandingkan dengan daerah lain.
Di manadi daerah lain, harga karet di Kabupaten PALI tergolong rendah. Karena ada beberapa daerah di luar PALI bisa mencapai harga Rp9.000/kg.
“Beberapa waktu lalu kami para bupati dan pemilik pabrik karet sempat dikumpulkan gubernur untuk membahas permasalahan ini,” kata Heri saat membuka Festival Seni Islam di Talang Ubi, Selasa (22/3).
Dalam kesempatan yang sama, Heri menambahkan bahwa penyebab rendahnya harga karet karena ulah petani sendiri.
Pemilik pabrik karet enggan menghargai karet dengan harga tinggi karena kebiasaan petani untuk mencampur getah karet dengan tatal kulit kayu, sagu, batu dan bahan-bahan lain. Kebiasaan buruk ini dilakukan masyarakat agar bisa menambah berat bobot karet yang dijual.
Heri memastikan, bila masyarakat mau meninggalkan kebiasaan buruk tersebut, harga karet akan meningkat dengan sendirinya. Karena karet berkualitas akan dihargai tinggi.
“Kebiasaan buruk inilah yang perlu kita ubah. Bagaimana mau menuju Pali Cemerlang Sumsel Gemilang kalau menjual karet bercampur sagu,” ujarnya.
“Sebab setahu saya sagu itu untuk bahan membuat pempek, bukan bahan bikin getah karet,” tambahnya.
Heri meminta agar masyarakat PALI untuk membiasakan menjual barang-barang bermutu. Baik hasil pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan sebagainya.
Karena menghadapi era persaingan ketat seperti MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), produk yang dihasilkan harus bermutu agar bisa bersaing dengan produk luar negeri.
“Kalau setiap usaha yang dilakoni mengutamakan kualitas, maka dengan sendirinya akan mengharumkan nama kabupaten kita. Kalau bisa setiap orang menyebut nama PALI, orang akan langsung ingat bahwa produknya pasti bermutu dan mahal. Begitu juga dengan karet. Kalau bisa kita terkenal dengan produk karet bermutu dan bersih, sehingga bisa menghasilkan harga yang tinggi,” tambah Heri. (adj)











