Palembang, Sumselupdate.com – Wastra khas Sumatera Selatan (Sumsel), mulai dari songket, batik hingga jumputan, didorong menembus pasar fashion internasional melalui ajang Palembang Fashion Week (PFW) 2026.
Digelar pada 4–8 November 2026 di Hall M3, PTC Mall Palembang, PFW 2026 mengusung tema ‘Palembang: CollaborACTION – Goes to Trend 2027’.
Ajang ini menjadikan kekayaan kain tradisional Sumsel sebagai sorotan utama dengan memadukan unsur budaya, kreativitas, dan perkembangan tren fashion modern.
Diselenggarakan Stage Management berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan Indonesian Fashion Chamber (IFC), PFW 2026 menghadirkan kolaborasi lintas bidang dan generasi melalui karya desainer lokal, nasional hingga internasional.
Owner Stage Management sekaligus Initiator dan Creative Director Palembang Fashion Week, Bimbo Titaley, mengatakan PFW bukan sekadar ajang peragaan busana, melainkan wadah untuk memperkenalkan potensi wastra Sumsel kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kami ingin mengangkat wastra Sumsel agar tidak hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi juga bisa mendunia. Melalui Palembang Fashion Week, kami memberikan ruang bagi para desainer untuk mengolah kekayaan kain tradisional menjadi karya fashion yang lebih modern dan memiliki daya tarik internasional,” kata Bimbo saat Closing Ceremony Palembang Fashion Week, Minggu malam (8/11/2026).
Menurutnya, kolaborasi menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan wastra agar mampu mengikuti perkembangan industri fashion tanpa kehilangan identitas budaya.
“Kita ingin menunjukkan bahwa wastra Sumsel memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Kain tradisional tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk konvensional, tetapi bisa dikreasikan menjadi busana modern, termasuk pakaian sehari-hari, tanpa meninggalkan karakter dan identitas budayanya,” ujarnya.
Salah satu wastra yang mendapat perhatian dalam peragaan busana tersebut adalah songket Palembang. Kain tradisional yang dikenal dengan motif khas dan benang emas ini dihadirkan dalam berbagai rancangan kontemporer, mulai dari gaun pengantin (wedding dress), busana pesta hingga koleksi busana modern.
Selain songket, batik dan jumputan khas Sumsel juga tampil dalam beragam koleksi. Perpaduan motif tradisional, tekstur, warna dan potongan modern menghasilkan rancangan yang tetap mempertahankan identitas budaya lokal sekaligus mengikuti perkembangan tren fashion.
Rangkaian PFW 2026 menghadirkan berbagai kategori busana, mulai dari pakaian kasual, hijab wear, busana berbahan wastra, busana pesta hingga gaun pengantin.
Salah satu fokusnya adalah mendorong kain tradisional agar dapat dikembangkan menjadi busana yang lebih praktis dan sesuai untuk digunakan dalam aktivitas sehari-hari (daily wear).
1. Libatkan Warga Binaan dan Talenta Muda
Semangat kolaborasi PFW 2026 juga terlihat melalui keterlibatan warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang.
Mereka menampilkan tujuh rancangan busana berbasis wastra Sumsel, termasuk batik dan jumputan. Partisipasi ini memperlihatkan bahwa industri fashion dapat menjadi ruang pemberdayaan sekaligus pengembangan kreativitas bagi berbagai kelompok masyarakat.
PFW 2026 juga memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk menunjukkan potensinya. Salah satunya melalui keikutsertaan talenta muda berusia 14 tahun dari salah satu sekolah di Palembang yang turut tampil di panggung peragaan busana.
2. Hadirkan Desainer Nasional dan Internasional
Palembang Fashion Week 2026 tidak hanya melibatkan desainer lokal, tetapi juga menghadirkan desainer senior yang memiliki pengalaman tampil di luar negeri serta desainer dari berbagai daerah dan mancanegara.
Sejumlah desainer yang berpartisipasi di antaranya Rajendra Label, Deden Siswanto, Ricky IDM, Brilianto, Rumah Songket Adis, Ilham Bahari, dan Jamila Patafito by Tujuh Saudara.
Kehadiran para desainer tersebut menjadi ruang pertukaran pengalaman sekaligus memberikan inspirasi bagi desainer pendatang baru mengenai perkembangan industri fashion, termasuk peluang memperluas pasar ke tingkat internasional.
Nuansa internasional semakin terasa dengan kehadiran model asing yang mengenakan busana berbahan wastra. Partisipasi ini merupakan bagian dari kolaborasi dengan 3D by Icha Key USA yang membawa koleksinya untuk ditampilkan di Palembang.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya memperluas pengenalan wastra Sumsel kepada publik internasional sekaligus memperlihatkan peluang kain tradisional Indonesia untuk dikembangkan menjadi produk fashion berdaya saing global.
3. Libatkan UMKM, Dorong Ekonomi Kreatif Daerah
Selain menjadi panggung bagi desainer, PFW 2026 turut melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari Sumsel maupun berbagai daerah di Indonesia.
Para pelaku UMKM berpartisipasi melalui peragaan busana dan stan bazar yang tersedia di lokasi acara. Keterlibatan ini memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, memperluas jaringan pemasaran, serta menjangkau konsumen yang lebih luas.
Melalui konsep CollaborACTION, PFW 2026 mempertemukan berbagai unsur, mulai dari instansi pemerintahan, lembaga pendidikan, desainer lokal dan internasional hingga pelaku industri kreatif.
Ajang ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menjadikan Palembang Fashion Week sebagai agenda fashion berskala besar yang dapat diselenggarakan secara berkelanjutan setiap tahun.
Lebih dari sekadar peragaan busana, PFW 2026 menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan modernitas. Melalui kreativitas dan kolaborasi, wastra Sumsel diharapkan semakin dikenal, memiliki nilai tambah ekonomi, serta mampu membuka peluang pasar yang lebih luas bagi desainer dan pelaku UMKM daerah.
(**)







