Kabut Asap Kembali Kepung Palembang Kamis Malam, 4 Wilayah Masuk Level Bahaya

Writer: - Kamis, 22 Oktober 2026
Kabut asap tebal masih menyelimuti Kota Palembang, Kamis (22/10/2026) malam. Kualitas udara di sejumlah wilayah terpantau memburuk berdasarkan aplikasi IQAir, bahkan empat wilayah masuk level bahaya. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), kembali memburuk pada Kamis (22/10/2026) malam. Pantauan aplikasi IQAir sekitar pukul 19.00 WIB menunjukkan empat wilayah berada pada level bahaya, dengan indeks kualitas udara (AQI) tertinggi mencapai 404.

Empat wilayah yang terpantau masuk level bahaya tersebut yakni Sukarami dengan AQI 324, Demang Lebar Daun 372, GP Plm 404, serta kawasan Universitas Sriwijaya (Unsri) dengan AQI 392.

Read More

Sementara itu, kualitas udara di kawasan Musi 2, Palembang, tercatat berada pada kategori sangat tidak sehat dengan AQI 292.

Memburuknya kualitas udara tersebut sejalan dengan kembali terasa dan tercium pekatnya kabut asap di sejumlah kawasan Palembang. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran warga terhadap dampak paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah.

“Keluar rumah sedikit saja dada langsung terasa sesak dan mata perih,” keluh Siti Aminah (38), warga kawasan Plaju, Palembang.

Siti mengaku kondisi udara yang memburuk dalam beberapa waktu terakhir membuat dirinya semakin waspada. Bau asap bahkan disebutnya mulai terasa hingga ke dalam permukiman.

“Dalam dua pekan terakhir ini udara rasanya tidak layak dihirup. Keluar rumah sedikit saja dada terasa sesak dan mata perih. Kami terpaksa memperketat pemakaian masker, karena bau asap pembakaran lahan sudah masuk ke dalam ruangan,” ujarnya.

Keluhan serupa dirasakan Rian (29), seorang pengemudi ojek online di Palembang. Selain mengkhawatirkan kesehatan, kabut asap juga mengganggu aktivitasnya saat mencari nafkah, terutama ketika jarak pandang berkurang.

“Pagi, sore, malam, sampai dini hari kabutnya tebal sekali. Pandangan terbatas dan bikin batuk-batuk di jalan. Mau tidak mau harus tetap jalan cari nafkah, tetapi risikonya kesehatan menjadi taruhan,” katanya.

Ia berharap pemerintah segera memperkuat upaya pemadaman kebakaran di sejumlah wilayah yang menjadi sumber asap agar kualitas udara di Palembang kembali membaik.

Hotspot Sumsel Kembali Naik, OKI Terbanyak

Memburuknya kualitas udara di Palembang terjadi ketika jumlah titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan kembali meningkat.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel, terpantau sebanyak 1.277 titik panas hingga Rabu (21/10/2026) pukul 06.00 WIB.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 695 titik. Berikutnya Kabupaten Banyuasin dengan 326 titik dan Musi Banyuasin sebanyak 128 titik.

Ketiga wilayah tersebut menyumbang 1.149 titik panas atau hampir 90 persen dari total hotspot yang terpantau di Sumsel.

“Terpantau sebanyak 1.277 titik panas hingga Rabu pukul 06.00 WIB. Kabupaten OKI menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, mencapai 695 titik,” terang Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman.

Sebaran hotspot lainnya terpantau di Musi Rawas sebanyak 28 titik, Muara Enim 24 titik, OKU Timur 23 titik, Musi Rawas Utara 16 titik, Ogan Ilir 12 titik, Lahat 11 titik, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) delapan titik, OKU Selatan tiga titik, OKU dua titik, serta Kota Prabumulih satu titik.

Sempat Turun, Hotspot Kembali Meningkat

Jumlah titik panas di Sumsel sempat mengalami penurunan sebelum kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir.

Pada 14 Oktober 2026, tercatat 2.456 titik panas. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 2.791 titik pada 15 Oktober, sebelum turun menjadi 2.559 titik pada 16 Oktober dan 1.122 titik pada 17 Oktober.

Jumlah hotspot kembali naik menjadi 1.560 titik pada 18 Oktober, kemudian turun menjadi 753 titik pada 19 Oktober.

Namun, tren penurunan tersebut tidak bertahan lama. Jumlah hotspot kembali meningkat menjadi 947 titik pada 20 Oktober dan mencapai 1.277 titik berdasarkan data yang disampaikan BPBD Sumsel untuk Rabu pagi, 21 Oktober 2026.

Secara kumulatif, BPBD Sumsel mencatat 111.451 titik panas sepanjang Januari hingga 20 Oktober 2026.

Kondisi ini menjadi perhatian di tengah memburuknya kualitas udara Palembang. Meski demikian, data hotspot menunjukkan indikasi kebakaran dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh asap yang menyelimuti Palembang berasal dari titik-titik tersebut.

Masyarakat berharap Satgas Karhutla bersama pemerintah daerah dan instansi terkait segera mengintensifkan pemadaman di lokasi kebakaran, baik melalui operasi darat maupun dukungan pemadaman udara dan upaya modifikasi cuaca sesuai kebutuhan serta kondisi di lapangan.

Upaya tersebut diharapkan dapat menekan kebakaran lahan sekaligus mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat Palembang serta daerah sekitarnya.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts