Palembang, Sumselupdate.com – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali memburuk dalam dua hari terakhir. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 melonjak hingga 854,8 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Rabu (21/10/2026) dini hari, membuat kualitas udara berada dalam kategori berbahaya.
Kondisi tersebut terjadi setelah kualitas udara sempat membaik menyusul pelaksanaan program penyemaian awan menggunakan dry ice. Perbaikan itu sebelumnya memungkinkan sekolah kembali menggelar pembelajaran tatap muka mulai Senin (19/10/2026).
Namun, kabut asap yang kembali menyelimuti Palembang sejak Selasa (20/10/2026) malam hingga Rabu pagi membuat sejumlah sekolah kembali menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring.
Berdasarkan pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, konsentrasi PM2.5 meningkat sejak dini hari sebelum akhirnya berangsur turun pada pagi hari.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan konsentrasi PM2.5 pada pukul 01.00 WIB tercatat sebesar 553,0 µg/m³. Angka tersebut terus meningkat hingga mencapai 854,8 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB.
Setelah mencapai angka tersebut, konsentrasi PM2.5 mulai menurun. Pada pukul 07.00 WIB, angkanya tercatat sebesar 576,1 µg/m³, kemudian kembali turun menjadi 291,4 µg/m³ pada pukul 08.00 WIB.
Meski mengalami penurunan, Wandayantolis menegaskan kualitas udara masih berada dalam kategori berbahaya.
“Kualitas udara tercatat berbahaya sejak dini hari hingga pagi hari. Angka PM2.5 mengalami penurunan pada pagi hari, tetapi masih berada di level berbahaya,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan untuk menjaga kesehatan dan menggunakan masker guna mengurangi paparan polusi udara.
Jika tidak ada keperluan mendesak, masyarakat disarankan tetap berada di dalam ruangan dan mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih buruk.
Sekolah Kembali Terapkan PJJ
Memburuknya kualitas udara turut berdampak pada kegiatan belajar mengajar di Palembang. Setelah lebih dari dua minggu menjalani pembelajaran jarak jauh akibat kabut asap, sejumlah sekolah sebelumnya mulai kembali menggelar pembelajaran tatap muka pada Senin (19/10/2026).
Namun, kondisi udara yang kembali memburuk membuat pembelajaran daring kembali diberlakukan di sejumlah sekolah.
Salah satunya SD Muhammadiyah 18 Kebun Bunga Palembang. Sekolah dasar tersebut kembali menerapkan PJJ setelah sebelumnya sempat menjalankan pembelajaran tatap muka.
Kembalinya kabut asap dan tingginya konsentrasi PM2.5 menjadi perhatian, terutama bagi anak-anak yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara.
Masyarakat diimbau terus memantau perkembangan kualitas udara dan mengikuti arahan pemerintah maupun pihak sekolah terkait kegiatan belajar mengajar selama kondisi udara di Palembang belum membaik.
(**)







