Pagaralam, Sumselupdate.com – Kualitas udara di Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, tercatat berada dalam kategori tidak sehat berdasarkan data pemantauan IQAir Indonesia yang diperbarui pada 5 Oktober 2026 pukul 19.00.
Dalam data tersebut, Indeks Kualitas Udara (AQI⁺) mencapai 160, sedangkan konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat sebesar 68,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka PM2.5 tersebut setara sekitar 13,8 kali pedoman konsentrasi rata-rata tahunan yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perbandingan ini mengacu pada pedoman tahunan WHO, bukan batas aman untuk paparan dalam satu jam atau satu hari.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena polusi udara dapat berdampak pada kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan atau gangguan jantung.
Data pemantauan yang sama mencatat suhu udara di Pagaralam sebesar 23 derajat Celsius, kelembapan 78 persen, dan kecepatan angin sekitar 5 kilometer per jam.
PM2.5 Berisiko Mengganggu Kesehatan Pernapasan
PM2.5 merupakan partikel polusi berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat halus memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup.
Paparan PM2.5 dapat memicu atau memperburuk gangguan pernapasan. Risiko juga perlu diperhatikan pada orang dengan penyakit jantung, penyakit paru-paru, serta kelompok rentan lainnya.
Sementara itu, informasi kualitas udara dari AccuWeather Indonesia yang tercantum dalam data pemantauan menunjukkan partikulat PM10 berada pada tingkat buruk. Konsentrasi nitrogen dioksida (NO₂) tercatat sekitar 19 µg/m³, sedangkan ozon permukaan (O₃) sebesar 33 µg/m³.
Kondisi masing-masing polutan dapat berbeda, sehingga masyarakat perlu memperhatikan pembaruan kualitas udara secara berkala dan tidak hanya mengandalkan satu indikator.
Warga Diimbau Membatasi Aktivitas Berat di Luar Ruangan
Saat kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, khususnya ketika konsentrasi polutan meningkat.
Warga yang harus beraktivitas di luar rumah dapat mempertimbangkan penggunaan respirator yang sesuai, seperti N95, KN95, atau FFP2. Masker tersebut dirancang untuk menyaring partikel halus apabila digunakan dengan benar dan terpasang rapat.
Masyarakat juga dapat menutup jendela ketika udara di luar memburuk serta menggunakan pembersih udara dengan filter yang sesuai untuk membantu mengurangi partikel polusi di dalam ruangan.
Anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit jantung perlu lebih berhati-hati dalam mengatur aktivitas. Jika muncul gejala seperti sesak napas atau keluhan pernapasan yang memburuk, segera cari pertolongan medis.
Masyarakat diharapkan terus memantau informasi kualitas udara melalui sumber tepercaya untuk menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi lingkungan.
Perlu diperhatikan, angka AQI⁺ 160 dan PM2.5 sebesar 68,9 µg/m³ dalam laporan ini merujuk pada pembaruan 5 Oktober 2026 pukul 19.00. Angka tersebut tidak dapat langsung dianggap sebagai kondisi terkini karena kualitas udara dapat berubah dari waktu ke waktu.
(**)







