Palembang, Sumselupdate.com – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali memburuk pada Rabu (7/10/2026) sore. Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah dengan konsentrasi polusi udara yang berada pada level berbahaya.
Berdasarkan pantauan aplikasi IQAir pada pukul 16.00 WIB, terdapat empat wilayah di Palembang yang terpantau masuk kategori berbahaya.
Wilayah Musi Dua mencatat indeks kualitas udara tertinggi dengan angka 680. Selanjutnya, Universitas Sriwijaya Bukit Kecil berada di angka 424, Demang 414, dan GP Plm 408.
Sementara itu, wilayah Sukarami berada pada kategori sangat tidak sehat dengan angka 290.
Kondisi tersebut juga terlihat secara kasat mata. Kabut asap masih tampak menyelimuti sejumlah kawasan Palembang dan disertai bau yang cukup menyengat.
Kondisi udara yang memburuk tidak hanya mengganggu kenyamanan masyarakat, tetapi juga berdampak pada aktivitas warga. Keluhan seperti mata perih, batuk, sesak napas hingga terganggunya aktivitas sekolah anak-anak menjadi dampak yang dirasakan sebagian masyarakat akibat paparan asap dan polusi udara.
Pengamat cuaca dan lingkungan, Wandayantolis, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama kualitas udara masih berada pada level buruk.
Menurutnya, masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan sebaiknya menggunakan masker yang mampu menyaring partikulat halus, terutama PM2.5.
Selain itu, aktivitas fisik berat di luar ruangan juga disarankan untuk dikurangi, khususnya bagi kelompok yang lebih rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang sensitif terhadap polusi udara.
“Warga yang harus keluar rumah disarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikulat halus. Selain itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki kondisi tubuh sensitif terhadap polusi udara,” jelas Wandayantolis.
Kabut asap yang masih bertahan juga menyebabkan jarak pandang di sejumlah lokasi menurun. Kondisi tersebut terutama dirasakan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan dan pengendara.
Masyarakat diimbau terus memantau perkembangan kualitas udara dan membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi semakin memburuk.
Dengan masih tingginya konsentrasi polusi udara di sejumlah wilayah, kewaspadaan masyarakat dinilai penting untuk mengurangi risiko paparan asap dan partikulat halus, terutama bagi kelompok rentan.
(**)







