Palembang, Sumselupdate.com – Kualitas udara di sejumlah wilayah Kota Palembang kembali memburuk pada Jumat (25/9/2026) pagi. Berdasarkan pantauan aplikasi IQAir, sedikitnya tiga titik pemantauan masuk kategori sangat tidak sehat.
Pantauan pada pukul 05.00 WIB menunjukkan indeks kualitas udara di Musi Dua mencapai 201, kemudian GP Plm berada di angka 267 dan Demang mencapai 201. Ketiganya masuk kategori sangat tidak sehat berdasarkan indikator yang ditampilkan aplikasi IQAir.
Kondisi tersebut melanjutkan buruknya kualitas udara yang terjadi sejak dini hari. Sebelumnya, pada rentang pukul 00.00 hingga 01.00 WIB, titik pemantauan Sukarami tercatat mencapai angka 210 atau berada pada kategori sangat tidak sehat.
Kondisi kualitas udara tersebut menjadi perhatian karena terjadi pada pagi hari ketika aktivitas masyarakat mulai meningkat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Pemkot Palembang Perlu Evaluasi Kembali PTM
Dengan kondisi udara yang masih berada pada kategori sangat tidak sehat di sejumlah wilayah, kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah kembali menjadi perhatian.
Pemkot Palembang sebelumnya memberikan ruang bagi masing-masing kepala sekolah untuk mempertimbangkan pelaksanaan pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran jarak jauh (PJJ), dengan memperhatikan kondisi kualitas udara dan kesehatan peserta didik.
Melihat kondisi udara pada Jumat pagi, evaluasi kembali terhadap pelaksanaan PTM dinilai perlu menjadi bahan pertimbangan, khususnya untuk jenjang TK, SD dan SMP.
Keputusan terkait pelaksanaan pembelajaran tetap berada pada kewenangan sesuai kebijakan Pemkot Palembang dan satuan pendidikan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan serta keselamatan peserta didik.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Tingginya tingkat polusi udara juga membuat masyarakat perlu menyesuaikan aktivitas harian.
Warga yang tidak memiliki keperluan mendesak disarankan mengurangi durasi berada di ruang terbuka, terutama ketika indeks kualitas udara masih berada pada level sangat tidak sehat.
Aktivitas olahraga maupun pekerjaan yang mengharuskan seseorang berada di luar ruangan dalam waktu lama juga sebaiknya dikurangi selama kondisi udara belum membaik.
Masyarakat dapat memantau perkembangan kualitas udara secara berkala sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
Perubahan arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi penyebaran polutan di udara. Karena itu, kondisi kualitas udara dapat berubah dari waktu ke waktu dan perlu terus dipantau.
Berdasarkan pantauan IQAir pagi ini, Palembang juga tercatat berada di peringkat pertama dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk yang ditampilkan aplikasi tersebut.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi masyarakat maupun pemerintah daerah, terutama dalam menentukan langkah perlindungan bagi kelompok rentan dan peserta didik di tengah kualitas udara yang belum sepenuhnya membaik.
(**)







