Transaksi BRImo Tembus Rp4.166 Triliun, Dana Murah BRI Tumbuh 10,1 Persen hingga Semester I 2026

Writer: - Kamis, 3 September 2026
Aktivitas layanan digital BRI melalui aplikasi BRImo yang terus berkembang dan menjadi bagian dari strategi penguatan ekosistem transaksi serta dana murah BRI. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Pagaralam, Sumselupdate.com – Aktivitas transaksi digital melalui BRImo terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga semester I 2026, aplikasi mobile banking BRI tersebut telah memiliki 22,4 juta pengguna aktif dengan total 3,3 miliar transaksi finansial senilai Rp4.166 triliun.

Pertumbuhan transaksi digital tersebut turut menjadi bagian dari strategi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI dalam memperkuat dana murah atau Current Account Saving Account (CASA).

Read More

Hingga semester I 2026, CASA BRI tumbuh 10,1 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut turut mendorong CASA ratio BRI mencapai 67,6 persen.

Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto mengatakan, pertumbuhan BRImo terus berlanjut, baik dari sisi jumlah pengguna maupun frekuensi transaksi.

“BRImo terus menunjukkan pertumbuhan. Hingga semester I, active users mencapai 22,4 juta dan 3,3 miliar transaksi finansial dengan value Rp4.166 triliun,” ujar Aquarius dalam paparan kinerja BRI semester I 2026, Senin (31/8/2026).

Menurut Aquarius, pengembangan BRImo tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah pengguna. BRI juga mendorong agar semakin banyak kebutuhan transaksi nasabah dilakukan melalui ekosistem digital perseroan.

Semakin aktif nasabah menggunakan BRImo untuk berbagai kebutuhan transaksi sehari-hari, semakin besar pula potensi dana yang tersimpan di rekening. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendukung pertumbuhan dana murah BRI.

Strategi digitalisasi tersebut juga menyasar pelaku usaha melalui penguatan ekosistem merchant.

BRI terus menyederhanakan proses onboarding agar semakin banyak pelaku usaha dapat masuk dan bertransaksi dalam ekosistem digital.

Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan transaksi QRIS. Sales volume per merchant atau per store meningkat 53,8 persen menjadi Rp13,4 juta per bulan.

Sementara itu, nilai transaksi QRIS tumbuh 86 persen secara tahunan menjadi Rp583,4 miliar.

“Pertumbuhan ini menunjukkan semakin kuat BRI mengelola transaksi harian masyarakat dan pelaku usaha, termasuk UMKM,” kata Aquarius.

Selain memperkuat layanan digital, BRI tetap mengandalkan jaringan fisik melalui AgenBRILink.

Hingga semester I 2026, volume transaksi melalui AgenBRILink mencapai Rp841 triliun. Jaringan agen tersebut juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan berbasis komisi.

Fee income dari AgenBRILink tercatat tumbuh 16,3 persen secara tahunan menjadi Rp915,7 miliar.

“Ini menunjukkan jaringan fisik dan digital BRI saling melengkapi,” ujar Aquarius.

Dengan demikian, BRImo menjadi salah satu kanal utama transaksi digital, sementara AgenBRILink memperluas akses layanan BRI di tengah masyarakat.

Kedua kanal tersebut menjadi bagian dari ekosistem yang memungkinkan BRI menangkap aktivitas ekonomi masyarakat dan pelaku usaha, baik melalui transaksi digital maupun layanan berbasis agen.

Pimpinan Cabang BRI Pagaralam Agustian Siburian mengatakan, penguatan ekosistem digital menjadi bagian penting dalam upaya BRI menghadirkan layanan perbankan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.

“Digitalisasi bukan hanya soal kemudahan transaksi, tetapi bagaimana seluruh aktivitas nasabah dan pelaku usaha dapat terhubung dalam ekosistem BRI. Dengan transaksi yang semakin aktif, potensi penghimpunan dana murah juga semakin besar,” ujar Agustian.

Di balik pertumbuhan transaksi digital tersebut, terdapat strategi untuk memperbaiki struktur pendanaan BRI.

Hingga semester I 2026, total dana pihak ketiga (DPK) BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen secara tahunan.

Sementara itu, CASA tumbuh sekitar 10,1 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total DPK. Kondisi tersebut mendorong CASA ratio BRI meningkat menjadi 67,6 persen.

Pertumbuhan dana murah memiliki arti strategis bagi perbankan karena dana CASA pada umumnya memiliki biaya dana yang lebih rendah dibandingkan sumber pendanaan berbasis deposito.

Dampaknya terlihat pada cost of fund (CoF) BRI. Pada semester I 2026, CoF berada di sekitar 2,4 persen, turun dibandingkan sekitar 3,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan biaya dana tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu BRI menghadapi tekanan margin. Net Interest Margin (NIM) BRI pada semester I 2026 tercatat 6,4 persen, turun dari 6,58 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski demikian, efisiensi biaya dana dan peningkatan porsi CASA turut mendukung kemampuan BRI dalam menjaga kinerja profitabilitas.

Hingga semester I 2026, BRI membukukan laba bersih Rp31,2 triliun atau tumbuh 17,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bagi BRI, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak lagi hanya berkaitan dengan kemudahan transaksi melalui aplikasi.

BRImo, QRIS dan AgenBRILink telah menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang menghubungkan aktivitas transaksi masyarakat, kegiatan pelaku usaha dan UMKM, penghimpunan dana murah hingga profitabilitas perusahaan.

Dengan 22,4 juta pengguna aktif dan 3,3 miliar transaksi finansial, tantangan berikutnya bagi BRI adalah menjaga agar aktivitas pengguna terus berkembang dan semakin terintegrasi dalam ekosistem digital perseroan.

BRImo pun semakin menempati posisi penting sebagai salah satu kanal BRI dalam mengembangkan transaksi digital sekaligus memperkuat struktur dana murah perusahaan.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts