Palembang, Sumselupdate.com — Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan, yang berlangsung selama tujuh hari, 22–28 Agustus 2026, belum mampu menghasilkan hujan dengan intensitas signifikan.
Kondisi tersebut terjadi karena pelaksanaan OMC bertepatan dengan puncak musim kemarau. Pada periode ini, pertumbuhan dan ketersediaan awan hujan di wilayah Sumsel relatif terbatas.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menjelaskan OMC pada dasarnya tidak dapat menciptakan awan hujan dari kondisi atmosfer yang tidak mendukung. Operasi ini bekerja dengan memanfaatkan awan potensial yang telah terbentuk secara alami untuk kemudian dioptimalkan agar proses pembentukan hujan berlangsung lebih efektif.
“Pelaksanaan OMC diarahkan untuk mengoptimalkan awan potensial hujan yang telah terbentuk secara alami, melalui penyemaian bahan semai berupa NaCl pada awan target yang memenuhi kriteria operasional,” jelas Siswanto, Sabtu (29/8/2026)
Siswanto menjelaskan, keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Beberapa faktor yang dibutuhkan antara lain suhu muka laut yang relatif hangat, kelembapan udara yang cukup tinggi pada lapisan bawah hingga menengah, serta kondisi atmosfer yang labil.
Baca juga: Hotspot Karhutla Sumsel Melonjak Jadi 600 Titik, BPBD Perkuat OMC dan Operasi Udara
Kombinasi tersebut dibutuhkan agar awan konvektif dapat tumbuh dan berkembang sehingga memiliki potensi menghasilkan hujan.
“Namun, kondisi Sumsel saat ini berada pada puncak musim kemarau. Situasi tersebut membuat potensi pertumbuhan awan hujan tidak selalu tersedia dalam jumlah dan karakteristik yang ideal untuk dilakukan penyemaian,” kata dia.
Siswanto menyebutkan penyemaian dilakukan dengan menyasar sejumlah wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan, di antaranya Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Muara Enim.
“Pada pelaksanaan hari pertama, pertumbuhan awan potensial hujan terpantau cukup baik di sekitar OKI dan Ogan Ilir,” kata dia.
Awan-awan tersebut kemudian menjadi target penyemaian karena dinilai memiliki karakteristik yang memungkinkan proses modifikasi cuaca dilakukan.
Baca juga: Hotspot Karhutla Sumsel Melonjak, Cuaca Panas Berpotensi Berlanjut hingga September
Siswanto mengatakan, pergerakan awan juga menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah yang berpotensi mendapatkan dampak dari OMC. Berdasarkan pemantauan arah dan kecepatan angin pada lapisan yang berkaitan dengan pergerakan awan, massa udara dan awan dari wilayah sasaran secara umum bergerak ke arah barat laut.
Pola tersebut membuat sebagian awan yang tumbuh di OKI dan Ogan Ilir berpotensi bergerak menuju Kota Palembang dan wilayah sekitarnya.
Namun, awan yang telah disemai tetap dipengaruhi kondisi atmosfer sepanjang perjalanannya. Pertumbuhan awan dan proses pembentukan hujan dapat berubah sesuai kondisi yang dilewati.
“Hujan yang terjadi selama pelaksanaan OMC di wilayah target maupun daerah sekitarnya belum menunjukkan intensitas yang signifikan. Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi atmosfer yang masih berada dalam periode puncak musim kemarau,” kata dia.
Meski demikian, OMC tetap memiliki peluang untuk membantu mengoptimalkan proses presipitasi dari awan yang sudah terbentuk.
“Penyemaian dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi proses mikrofisika di dalam awan sehingga proses pembentukan butir air, penggabungan partikel air, dan presipitasi dapat berlangsung lebih optimal,” ujarnya.
Dengan kata lain, OMC bukanlah cara untuk mendatangkan hujan secara instan. Teknologi tersebut hanya berupaya memaksimalkan potensi hujan dari awan yang memang tersedia dan memenuhi kriteria untuk disemai.
Di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumsel, upaya tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah rawan kebakaran.
Selain membantu membasahi lahan, hujan yang turun juga diharapkan dapat berkontribusi mengurangi dampak kabut asap yang menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Palembang.
“OMC dalam hal ini berpotensi memberikan kontribusi dalam mengoptimalkan proses presipitasi pada awan yang telah tersedia dengan harapan mengendalikan dampak kabut asap,” tutupnya. (**)











