Pagaralam, Sumselupdate.com – Meluasnya banjir yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi pengingat keras bahwa kerusakan lingkungan di Indonesia semakin mendekati titik kritis.
WALHI Sumsel menilai bencana di tiga provinsi tersebut sebagai bencana ekologis yang berpotensi terus berulang di Sumatera Selatan jika kerusakan alam tidak segera dihentikan.
Direktur WALHI Sumsel, Yuliusman SH MH, menyampaikan duka cita mendalam atas musibah yang terjadi sekaligus menegaskan bahwa pola bencana semacam itu bukan hal baru.
“Bencana banjir di tiga provinsi itu adalah akibat rusaknya sumber daya alam karena praktik pembangunan yang eksploitatif. Hal seperti ini juga sering terjadi di Musi Rawas, Muratara, Muaraenim, Lahat, Muba, Pagaralam, Banyuasin, OKU, hingga Palembang,” ujarnya.
Yuliusman meminta pemerintah segera mengambil langkah antisipatif di wilayah rawan banjir dan longsor serta memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di daerah kritis untuk meminimalisir korban.
Ia juga menilai kondisi banjir meluas di Pulau Sumatra sebagai momentum bagi pemerintah untuk mengambil keputusan besar.
“Kita harus mendorong pemerintah segera menghentikan penambangan batubara, pembukaan gambut, dan melakukan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumsel,” katanya.
Galian C dan Pembalakan Disebut Penyebab Utama
Dalam pernyataannya, Yuliusman menyoroti dua aktivitas yang menurutnya berkontribusi besar terhadap bencana ekologis: galian C dan pembalakan hutan. Ia mendesak Aparat Penegak Hukum segera bertindak.
“APH bersama Dinas Kehutanan harus segera melakukan patroli dan menindak para pelaku pembalakan. Tindakan tegas terhadap pelaku galian C dan pembalakan hutan wajib dilakukan sekarang juga,” tegasnya.
Menurutnya, aktivitas tersebut bukan hanya merusak ekosistem, tetapi juga mempercepat risiko bencana. Tanah kehilangan daya serap, tebing menjadi rapuh, dan aliran air tidak lagi tertahan oleh vegetasi alami.
Pagaralam Termasuk Kawasan Rawan
Kota Pagaralam, yang dikenal sebagai kawasan perbukitan dengan hutan lindung, juga turut menjadi sorotan. Meski memiliki hutan yang relatif terjaga, ancaman tetap ada jika pembalakan dan aktivitas tambang dibiarkan.
“Pagaralam punya hutan lindung yang penting bagi stabilitas ekologis Sumsel. Bila daerah seperti ini sampai rusak, maka risiko banjir dan longsor akan jauh lebih besar,” ujar Yuliusman.
Ia menegaskan kembali bahwa bencana ekologis bukan sekadar fenomena alam, melainkan akibat dari pilihan pembangunan. Karena itu, langkah-langkah penyelamatan lingkungan harus dilakukan sekarang, bukan nanti.
(**)











