Ramai Bendera One Piece Jelang HUT RI, Bima Arya: Ekspresi Sah dalam Negara Demokrasi

Writer: - Minggu, 3 Agustus 2025
bendera One Piece (dok. Toei Animation/One Piece)

Jakarta, Sumselupdate.com — Pengibaran bendera bajak laut Topi Jerami khas One Piece marak di berbagai daerah menjelang HUT ke-80 RI. Fenomena ini sempat menuai perdebatan, namun Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa aksi para Nakama itu sah sebagai bentuk ekspresi warga negara.

Menurutnya, aksi para Nakama sebutan untuk penggemar One Piece ini tidak perlu dipersoalkan secara berlebihan.

Read More

Bahkan, Bima Arya memberikan 3 alasannya, soal fenomena bendera One Piece sebagai hal yang wajar.

1. Bagian dari Ekspresi dan Kreativitas di Negara Demokrasi

Alasan paling mendasar adalah kebebasan berekspresi. Menurut Bima Arya, selama tidak melanggar aturan tertinggi negara, kreativitas warga adalah hal yang sah dalam iklim demokrasi.

Mengibarkan bendera kelompok bajak laut fiksi dilihat sebagai bentuk ekspresi, bukan ancaman.

“Menurut saya dalam negara demokrasi ekspresi itu wajar, sejauh itu tidak bertentangan dengan konstitusi,” ujar Bima Arya dilansir dari Antara.

Ini adalah sinyal bahwa pemerintah melihat fenomena ini bukan dari kacamata politik yang kaku, melainkan sebagai bagian dari dinamika budaya pop yang digandrungi anak muda.

2. Disamakan dengan Bendera Organisasi Lain yang Sah

Untuk mempermudah pemahaman, Bima Arya menganalogikan bendera One Piece dengan bendera organisasi lain yang sudah familiar di masyarakat.

Ia menegaskan bahwa tidak ada larangan mengibarkan bendera apa pun, selama bukan simbol dari organisasi atau ideologi terlarang.

Bima Arya menilai aksi pengibaran bendera Once Piece sama halnya seperti pengibaran bendera-bendera organisasi yang sering dilakukan oleh masyarakat, seperti bendera pramuka, bendera Palang Merah Indonesia (PMI), maupun bendera cabang olahraga.

“Tidak ada yang melarang mengibarkan bendera, kecuali bendera-bendera organisasi yang dilarang. Ideologi yang dilarang itu enggak boleh,” tegasnya.

Karena kru Topi Jerami adalah kelompok fiksi dari Jepang dan bukan organisasi terlarang di Indonesia, maka benderanya pun tidak masalah untuk dikibarkan.

3. Cerminan Harapan, Ekspektasi, bahkan Kritik untuk Pemerintah

Ini adalah poin paling menarik. Pemerintah ternyata tidak menutup mata terhadap makna simbolis di balik bendera tersebut. Bima Arya, yang juga mantan Wali Kota Bogor, melihat aksi ini bisa jadi merupakan refleksi atau harapan dari masyarakat.

“Kalaupun ada ekspresi (pengibaran bendera) One Piece, maka kami lihat ekspresi atau ekspektasi sebagai bahan masukan tentunya,” ucapnya.

Kisah One Piece sendiri sarat dengan narasi perjuangan melawan ketidakadilan, mengejar kebebasan, dan melawan Pemerintah Dunia yang tiran.

Bima Arya menangkap kemungkinan adanya pesan tersirat dari para penggemar. Baginya, ini bisa menjadi bentuk kritikan terhadap kondisi negara, yang akan didengar sebagai masukan.(src)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts