ASAM lambung merupakan sebuah gejala penyakit yang sering dialami oleh sebagian masyarakat Indonesia. Asam lambung dapat terjadi akibat beberapa faktor seperti pola makan, gaya hidup, serta kondisi kesehatan lainnya. Salah satu penyebab asam lambung adalah tidak memberikan waktu yang cukup untuk mencerna makanan sebelum beraktivitas atau sebelum tidur.
Salah satu cabang organisasi kesehatan yaitu PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) Kabupaten Biak Numfor dengan alamat website pafibiaknumfor.org menjelaskan bahwa penyakit asam lambung, yang juga dikenal sebagai Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), adalah kondisi medis di mana asam lambung naik ke kerongkongan, menyebabkan gejala yang tidak nyaman. Penyakit asam lambung ditandai dengan rasa terbakar di dada atau heartburn, yang sering kali terjadi setelah makan atau saat berbaring.
Penyakit ini terjadi ketika otot di bagian bawah kerongkongan (otot LES) melemah, sehingga tidak dapat menutup dengan baik setelah makanan masuk ke lambung. Hal ini memungkinkan asam lambung untuk kembali naik ke kerongkongan. Faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya GERD seperti usia lanjut, obesitas ataupun kehamilan.
Apa penyebab utama terjadinya dari asam lambung?
Penyebab utama dari asam lambung naik, atau yang dikenal sebagai Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), melibatkan beberapa faktor yang dapat memicu refluks asam lambung ke kerongkongan. Berikut adalah beberapa penyebab yang umum:
- Gaya hidup yang tidak sehat
Makan terlalu dekat dengan waktu tidur atau tidak teratur dapat meningkatkan risiko asam lambung naik. Disarankan untuk tidak makan setidaknya dua jam sebelum tidur. Selain itu, makanan pedas, asam, berlemak, serta minuman berkafein dan beralkohol dapat merangsang produksi asam lambung.
- Obesitas atau berat badan berlebihan
Kelebihan berat badan memberikan tekanan tambahan pada perut, yang dapat menyebabkan asam lambung naik ke kerongkongan. Ini adalah faktor risiko signifikan untuk mengalami GERD.
- Posisi tubuh dan faktor hormonal
Berbaring setelah makan atau tidur dalam posisi datar dapat memudahkan asam lambung untuk kembali naik ke kerongkongan. Posisi berdiri atau duduk membantu menjaga makanan dan asam di tempatnya. Pada wanita hamil, perubahan hormonal dan tekanan dari janin dapat melemahkan sfingter esofagus bawah, yang berfungsi mencegah refluks.
- Faktor usia
Seiring bertambahnya usia, otot-otot yang mengontrol sfingter esofagus bawah dapat melemah, meningkatkan risiko refluks asam.
Apa saja obat praktis untuk mengatasi asam lambung?
Berikut adalah beberapa obat yang direkomendasikan untuk mengatasi asam lambung, yang dapat membantu meredakan gejala seperti nyeri ulu hati, mual, dan perut kembung:
- Obat Antasida
Ada beberapa obat jenis antasida yang baik untuk mengatasi asam lambung, salah satunya adalah Mylanta. Obat Mylanta mengandung aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida, efektif untuk menetralkan asam lambung. Selain itu tablet Promag bisa menjadi alternatif karena tablet kunyah ini berfungsi sebagai antasida untuk meredakan gejala asam lambung.
Sebelum mengonsumsi obat-obatan ini, sangat penting bagi Anda untuk berkonsultasi dengan apoteker atau dokter agar mendapatkan diagnosis yang tepat dan dosis yang sesuai.











