Baturaja, Sumselupdate.com – Operasi pasar berupa daging murah yang dilakukan Perum Bulog Sub Divre III OKU, disiyalir asal-asalan. Penyebabnya, operasi tersebut tidak diketahui masyarakat luas.
Kegiatan yang dilaksanakan di depan kantor Bulog kawasan Jalan Lintas Sumatra (Jalinsum) Kemelak Baturaja, atau tak jauh dari rumah dinas wakil Bupati itu, diketahui telah dimulai Selasa (21/6).
Kendati pihak Bulog memasang spanduk pemberitahuannya mengenai adanya operasi tersebut, namun seolah tak transparan dalam gelaran pasar daging murah ini.
“Kami sama sekali tak tahu kalau ada pasar murah daging di depan kantor ini,” ucap Bagus warga sekitar kantor itu.
Tak didapati keterangan pasti mengenai berapa hari pasar daging murah, berapa banyak stok (kuota) daging yang dijual tersebut, termasuk sasarannya siapa saja.
Saat beberapa awak media menyambangi kantor itu tadi pagi, tak ada satu orang pun di Bulog yang dapat memberikan keterangan mengenai operasi pasar daging tersebut, ketika hendak ditanya wartawan.
Yang ada malah, seluruh pegawai di sana saling lempar. Pegawai di luar bilang kepada wartawan silahkan tanya di dalam, karena ada bagian yang mengurusinya. Sementara, ketika di dalam, orang yang dimaksudkan tadi justru dikatakan tidak berada di tempat.
“Lah gimana ini, ada gawean seperti ini, kok gak ada yang bisa memberikan keterangan,” cetus Wiwin, salah satu wartawan media online.
Usut punya usut, ternyata operasi pasar daging murah tersebut tidak berkoordinasi dengan pemerintah daerah terkhusus dalam hal ini pada Dinas Peternakan setempat.
Sekretaris Dinas Peternakan Joni Saihu didampingi Kasi Kesmavet, Apran, menyebutkan bahwa tidak ada tembusan laporan ke pihaknya mengenai kegiatan Bulog tersebut.
“Tidak ada laporan ke kami, apalagi surat,” katanya saat disambangi Sumselupdate.com di kantornya.
Menurut Joni dan Apran, semestinya dalam hal ini Bulog berkoordinasi dengan pihaknya. Terutama dari sisi kesehatan daging hewan yang dijual tersebut.
Sebab, masyarakat juga tidak tahu apakah daging yang dijual tersebut sehat dan layak konsumsi. Apalagi yang dijual merupakan daging impor dari Australia.
“Memang itu kan sudah ada koordinasi dengan pihak Propinsi. Tapi harusnya juga koordinasi ke kita. Namun untuk saat ini tidak ada surat. Kami mesti memantau daging tersebut dari sisi kesehatan,” katanya. (yan)











