Kadisdikbud OKU Setuju Hapuskan PR Untuk Siswa, Tapi Kuatkan Pendidikan Karakter

Rabu, 20 September 2017
Kepala Dinas Pendidikan OKU, DR Drs H Achmad Tarmizi SE MT.

Baturaja, Sumselupdate.com – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Ogan Komering ulu (OKU) Achmad Tarmizi menilai bahwa pekerjaan rumah (PR) bagi para pelajar itu sebaiknya lebih ke penguatan pendidikan karakter.

Seperti dengan mengunjungi teman yang sakit, melayat ke tempat orang meninggal, kunjungan ke panti, membersihkan tempat ibadah. Penanaman hal ini perlu dilakukan untuk memupuk rasa sosialitas yang tinggi dan tenggang rasa.

Read More

Tarmizi juga mendukung larangan memberikan pekerjaan rumah (PR) untuk para siswa yang dikemukakan oleh Menteri Pendidikan Dan Kenudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy beberapa waktu yang lalu. Dirinya sangat sependapat dengan larangan tersebut, menurutnya larangan dari Mendikbud tersebut agar guru lebih kreatif memberikan PR kepada siswa dalam rangka penguatan pendidikan karakter.

Dikatakan Tarmzi, secara aturan PR bidang akademik bukan berarti tidak boleh, melainkan lebih kepada pendidikan karakter, sebab saat ini zaman serba canggih. Generasi saat ini bisa dikatakan sebagai generasi digital yang setiap saat lebih memilih menyendiri berselancar di dunia maya dan di sinilah pendidikan karakter lebih ditekankan.

“Kalau masalah Matematika atau mata pelajaran lainnya sebisa mungkin diselesaikan di sekolah, misalnya dilakukan tanya jawab atau pembahasan soal. Lagi pula kalau diberikan PR terus sampai siswa nya tidak bisa lagi mengerjakan hal positif lain, itu juga tidak baik,” tuturnya.

Saat ini di era digitalisasi,  kata Tarmizi yang terpenting adalah pembangunan karakter, agar generasi penerus kita bisa menjadi manusia yang seutuhnya dan dapat diandalkan pada masa yang akan datang.

Tidak hanya memahami secara intelektual pada bidang akademis saja, tapi ada karakter sosial siswa yang memiliki hubungan emosional di tengah masyarakat.

“Coba diperhatikan anak-anak sekarang, lebih sibuk dengan gadget dibanding lingkungan sekitar, bahkan mereka terkesan tidak peduli, untuk itu pendidikan karakter lebih ditekankan,” imbuhnya.

“PR bisa dijadikan salah satu pembelajaran penguatan karakter, saya ingatkan bukan berarti PR akademik tidak diperbolehkan, tapi lebih penguatan karakter seperti kata Mendikbud,” tandasnya. (wid)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts