Palembang, Sumselupdate.com – Tidak semua Perguruan Tinggi (PT) memiliki laboraturium dalam hal sarana dan prasarana kampus. Namun tak berlaku bagi Universitas PGRI Palembang. Bahkan, bagi PT yang tak memiliki laboratorium, kampus biru ini siap mengulurkan tangan untuk kerjasama.
“Kita memiliki 33 laboratorium untuk 24 prodi. Di antaranya laboratorium komputer, teknik sipil, teknik elektro, teknik fisika dasar, biologi, kimia, sejarah, geografi, bank mini, perpajakan, matematika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, bimbingan konseling, PAUD, micro teaching, sendratasik, workshop olahraga, perikanan dan lain program studi (prodi) lainnya,” ujar Wakil Rektor III UPGRI Palembang Zainal Abidin saat membuka Pelatihan Asisten Laboratorium Fisika Dasar Laboratorium Terpadu UPGRI Palembang, Senin (18/9/2017).
Menurutnya, ke depan pihaknya bakal bekerjasama dengan PT lain yang tidak memiliki laboratorium untuk praktik di laboratorium UPGRI Palembang. Sebab, saat ini UPGRI telah memiliki laboratorium terpadu yang siap dipakai kapan saja.
Selain itu, ia menambahkan, adanya pelatihan asisten laboratorium ini guna memaksimalkan pemahaman mahasiswanya mengenai praktikum di laboratorium.
“Ini yang pertama kita lakukan pelatihan asisten laboratorium fisika dasar. Kedepan akan kita latih juga asisten laboratorium prodi lainnya,” ucapnya.
Senada, Koordinator Laboratorium Terpadu UPGRI Palembang M Bakrie menjelaskan, pelatihan ini dalam rangka rekruitmen asisten laboratorium fisika dasar laboratorium terpadu, di mana yang direkrut itu mahasiswa minimal semester V yang sudah praktik fisika dasar dan dengan kriteria tertentu lainnya seperti nilai akademiknya harus A di mata kuliah fisika.
“Yang kita ambil hanya 10 mahasiswa terbaik dari enam prodi yakni prodi FKIP Fisika, Teknik Kimia, Teknik Sipil, Teknik Elektro, MIPA Fisika dan Budidaya Pertanian. Untuk seleksinya sendiri sudah dilaksanakan di tingkat prodi masing-masing, sehingga kami hanya melakukan pelatihannya selama dua hari dimulai pada 18-19 September pukul 08.00 – 16.00,” jelasnya.
Dikatakannya, saat praktikum nanti, asisten ini tidak lepas dari dosen pembimbingnya. Jadi mereka hanya mendampingi dosen yang mengajar agar juniornya yang praktik dapat lebih memahami, sebab dengan waktu yang ada tidak mungkin dosen tersebut dapat menangani semua pertanyaan dan modul praktikum mahasiswanya.
“Satu SKS praktik ini bobot waktunya 170 menit dengan enam kelompok yang berisi lima orang per kelompoknya. Jadi kalau satu per satu diajarkan praktiknya, maka waktunya tidak efisien. Maka dari itu kita perbantukan asisten laboratorium yang minimal saat praktik dengan enam kelompok ada tiga asisten yang mendampingi dosen tersebut,” pungkasnya. (sbw)











