Pesan Bakso dan Mie Sebelum Bantai Keluarga Tasir

Selasa, 31 Mei 2016
Para pelaku memperagakan bagaimana menghabisi keluarga Tasir dalam reka ulang yang digelar, Selasa (31/5).

Banyuasin, Sumselupdate.com –Lima pelaku pembantai Tasir beserta empat anggota keluarganya, memang sudah merencanakan aksi pembunuhan itu.

Bahkan dengan santai, mereka sempat pesan bakso dan mie goreng sebelum menghabisi korban satu persatu.

Hal ini terungkap pada reka adegan pembunuhan di Mapolres Banyuasin, Selasa (31/5) yang diperankan lima tersangka, Nendi Mulyana (17), Purwanto alias Encep (22), dan pelaku Abdul Kohar (19), ketiganya warga Tirta Kencana Kecamatan Makarti Jaya.

Kemudian Uuk Nur Indra alias Uuk (19), warga Makarti Jaya dan otak pelaku Agus Mubarok (47) warga Desa Siderejo, Kecamatan Muara Sugihan.

Ado seratus reka adegan yang diperagakan tersangka. Di mana diawali pada Selasa (10/5) sore di Desa Idrapura, Jalur 16, Kecamatan Muara Sugihan, Banyuasin.

Berdasarkan instruksi Agus Mubarok berangkatlah pelaku Purwanto berboncengan dengan Nendi mengendarai motor Suzuki SR warna merah tanpa plat, sambil Hendi membawa lima batang kayu mengarah ke rumah korban.

“Kayu itu Hendi yang bawa, sudah dicat warna merah, dan diruncingi bagian depannya. Supaya kalau ada yang curiga, kayu itu akan dipakai untuk matok tanah,” ungkap Mubarok.

Kemudian menyusul  tersangka Abdul, mengendarai Suzuki Ninja warna putih hijau muda, bersama pelaku Uuk, mereka mendatangi rumah Agus Mubarok.

Tidak lama berselang mereka berangkat menuju lokasi, dimana. tersangka Uuk Nur Indra dan Agus Mubarok, berbonceng motor Yamaha Vega BG 2771 PL warna biru.

Selanjutnya pada adegan  12 pelaku Mubarok sempat memberikan uang Rp150 ribu, untuk membeli tali rapiah dan terpal kemudian dibawa di tas Mubarok.

Saat di jalan para pelaku sempat kehabisan bensin, dan melaju ke arah Jembatan 6.

Pada adegan ke 29, para pelaku sempat memesan bakso, namun kehabisan jadi makan nasi goreng dan mie goreng.

Kemudian di adegan 34, komplotan ini berhenti di jalan, nongkrong sambil minum bir 2 botol yang dioplos kratindaeng 2 botol.

Pada saat itu Agus Mubarok mengarahkan pada empat pelaku bayarannya itu menghabisi keluarga Tasir, dengan tujuan mengambil uang penjualan tanah senilai Rp150 juta.

Puncaknya pada adegan 45, Agus Mubarok mengetuk pintu rumah Tasir.

Pada saat itu, korban Kartini yang keluar rumah kemudian dibuntuti pelaku Encep. Sebanyak 4 kali pelaku Encep menghantamkan kayu ke bagian kepala dan tubuh Kartini, hingga tewas.

Pada adegan  46, di dalam rumah, korban Ropiah, Tasir, Winarti, dan korban Apriani, sempat ngobrol dengan tersangka Agus Mubarok.

Hingga terjadilah pertengkaran, dengan tiba-tiba pelaku Uuk memukul korban Tasir sampai tewas.

Giliran pelaku Mubarak yang membunuh Ropiah, pelaku Nendi menghabisi Winarti, kemudian pelaku Abdul alias Adul yang mencabut nyawa Winarti.

Di adengan 55, usai membunuh para korban, Mubarak menyuruh pelaku Hendi, Adul, bersama UUk untuk mencari uang di dalam lemari, namun hasilnya nihil.

Selanjutnya, pelaku Mubarok memegang kaki dan Encep megang tangan  untuk mengangkat korban Kartini ke dalam karung.

Pada adegan 63, para korban dimasukkan dalam karung. Lantas pelaku Mubarok dan Purwanto alias Encep, membawa jasad Ropiah dan Winarti dalam karung dengan sepeda motor.

Sedangkan pelaku Adul dan Hendi membawa karung korban Tasir dan Apriyani, serta Kartini. Adegan 70 dan  75 sebelum dibuang korban dalam karung diisi pasir terlebih dulu.

Adegan 80, tiga mayat dimasukan ke dalam terpal dibuang ke sungai, baru dua mayat lagi juga dilemparkan ke sungai.

Selanjutnya para pelaku kabur hingga ditangkap secara bergiliran.

Pantauan di lapangan, para pelaku kelelahan saat menjalani reka ulang sebanyak 100 adengan. Namun reka ulang berjalan tertib hingga semua pelaku digiring ke penjara.

Kapolres Banyuasian AKBP Prasetyo Rachmat Purboyo SIk didampingi Kasat Reskrim AKP Agus Sunandar dan Kanit Pidum Iptu Sugeng S, SH menegaskan reka ulang untuk lebih memperjelas tindakan pembunuhan tersebut.

Kemudian hasilnya akan diserahkan ke kejaksaan untuk bahan penyidikan.

“Rekonstruksi sengaja di gelar di Mapolres untuk menghindari amuk masa, hasil ini akan diserahkan ke jaksa untuk kelengkapan berkas penyidikan,” katanya. (zis)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts