Terkendala Sinyal, Warga Buat Pondok di Atas Bukit Untuk Belajar Daring Siswa

BELAJAR DARING-Siswa di Desa Tanjung Taring dan Tanjung Keling, Kelurahan Burung Dinang, Kecamatan Dempo Utara, membuat tempat seadanya untuk kegiatan belajar daring.

Laporan: Novrico Saputra

Pagaralam, Sumselupdate.com-Semua metode pembelajaran berubah secara drastis selama masa pandemi Covid-19. Para pendidik yang mengandalkan metode tatap muka, harus mengubahnya secara daring atau online.

Bacaan Lainnya

Namun, tak semua siswa bisa belajar secara daring dengan nyaman. Terutama mereka yang tinggal di kawasan pelosok. Tak seperti halnya pelajar di perkotaan yang justru lebih diuntungkan dengan kebijakan belajar di rumah secara daring.

Seperti yang dialami murid di pedesaan terpencil di Desa Tanjung Tarung dan Tanjung Keling, Kecamatan Dempo Utara, yang dipusingkan persoalan akses internet karena sulitnya berburu sinyal karena terkendala jaringan.

Mereka masih kesulitan melakukan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) sistem daring yang masih diterapkan pemerintah di masa Pandemi Covid-19. Hal ini disebabkan karena kawasan tersebut masih Blank Spot atau tempat yang tidak memiliki sinyal komunikasi yang baik.

Sejumlah siswa sedang membuat tempat untuk belajar daring.

Melihat susahnya para siswa yang harus panas-panasan saat belajar karena tidak ada tempat berteduh. Warga Desa Tanjung Keling secara swadaya melakukan gotong royong membuat pondok untuk mereka belajar daring.

Ketua RW 02 Desa Tanjung Keling Topa mengatakan, sangat prihatin melihat anak-anak harus berpanas-panasan di atas bukit untuk bisa melakukan KBM sistem daring. Karena hanya di atas bukit yang cukup jauh dari pemukiman terdapat sinyal handphone (HP).

“Selama ini anak-anak kami belajar di atas bukit dengan panas-panasan karena tidak ada tempat berteduh. Kadang mereka harus masuk dibawa rerumputan agar terhindar dari terik matahari,” ujar Topa, Sabtu (5/9/2020).

Melihat kondisi ini warga berinisiatif untuk membuat pondok sederhana agar siswa yang sedang daring tidak kepanasan atau kehujanan.

“Kami secara swadaya dan gotong royong membuat pondok menggunakan bambu dan plastik mulsa sebagai atapnya, agar anak-anak bisa belajar tanpa harus kepanasan dan kehujanan,” katanya.

Ketua RT 06 Endang menambahkan, sebagai orangtua kadang khawatir saat anak-anak mereka harus belajar di atas bukit. Hal ini disebabkan lokasinya cukup jauh dari pemukiman.

“Kita kadang khawatir saat mereka berada di sana, karena lokasinya jauh dan sepi. Ditambah karena berada di atas bukit tersebut rawan longsor, bahkan sudah ada jalan yang amblas,” tambahnya.

Warga berharap pemerintah atau ada donatur yang bisa membantu membangun pondok yang cukup baik agar para siswa dapat belajar dengan nyaman dan aman selama sistem daring ini masih diberlakukan. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.