Seni dan Politik

Opini : Arif Kurniawan, M.Pd /Dosen Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan STKIP Muhamadiyah OKU Timur

Seni itu sesuatu yang unik. Melalui seni, orang bisa berekspresi sesuka hati. Kalimat ini dimaknai ungkapan seni yang berwujud. Misal seorang penyair, dengan kepiawaiannya mereka mampu menyusun kata demi kata yang teroganisir dengan baik, kemudian menjadi kumpulan kata-kata yang indah.

Bacaan Lainnya

Bahkan melalui seni, kita dapat mengetahui etnis seseorang tersebut.  Karena, seni merupakan bagian dari kebudayaan, misalnya seni tradisional. Seni tradisional biasanya ide, dan gagasannya berdasarkan kondisi sosial masyarakat pemilik kebudayaan tersebut. Dalam posisi inilah seni menjadi salah satu media untuk memunculkan jati diri kedaerahan. Hal inilah yang dikenal dengan idetitas budaya. Karenanya, wajar saja bila seni tradisional harus kita kawal bersama-sama, agar jati diri kedaerahan kita terbentuk dengan sendirinya.

Rentetan peristiwa yang terjadi dalam panggung politik seolah memberikan pemahaman pada kita bahwa sesungguhnya para pemikul kebijakan dalam suatu daerah seharusnya mulai menyentuh wilayah seni dan budaya. Seperti yang pernah disampaikan sosiolog Indonesia, Soedjono Soekamto,  bahwa ada dua poin penting yang menyatu dan selalu dibawa kemanapun manusia pergi, yaitu agama dan budaya. Kedua poin ini seolah menyatu, menjadi bagian yang sangat sensitif bagi masyarakat pendukungnya.

Sebagai gambaran di Kabupaten OKU Timur yang terkenal sebagai Kabupaten multi etnis, di sini terdapat suku Komering, Ogan, Jawa, Bali, Sunda, dan lain sebagainya. Kesemua etnis tersebut tentunya bermukim dan membentuk komunitasnya masing-masing. Tak jarang diantara mereka saling bertukar cerita. Tak jarang juga mereka selalu berkumpul sambil memainkan seni tradisi yang mereka bawa dari asal daerahnya masing-masing.

Menurut pakar psikologi fenomena ini memang berjalan secara alami. Karena lewat seni budaya yang mereka mainkan, hal ini secara tidak langsung dapat menimbulkan kedekatan secara personal. Hal ini juga dapat mengobati kerinduanya membayangkan semasa sebelum mereka berpencar membentuk koloninya di wilayah yang baru. Fenomena pentas seni tradisi di ruang publik ini sering saya jumpai disekitar Kota ini, karena memang di Kabupaten OKU Timur berdiam beberapa suku yang saling membaur menjadi satu tanpa harus menghilangkan jati diri kedaerahanya masing-masing. Sebagai contohnya adalah seni budaya tradisi yang selalu mereka munculkan di ruang publik.

Perdebatan Seni dan Politik

Seni dan politik merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dalam perkembangannya. Pembicaraan ini kita mulai dengan menyuguhkan perdebatan Sokrates sebagaimana dituturkan kembali oleh Plato. Persisnya dengan satu kalimat Sokrates atau Plato, yang terkenal dalam Politeia, yakni “Ada pertengkaran sejak jaman kuno antara filsafat dan puisi”.

Pertengkaran antara filsafat dan puisi dengan segera tampak sebagai pertengkaran antara Callipolis dan puisi. Callipolis merupakan sebuah proyek Platonis, lebih kurangnya isi proyek Callipolis ialah terlaksana sebagai sebuah negeri yang ideal karena ada pembagian sosial dengan tugas masing-masing yang tegas. Tak hanya itu, dalam struktur itu apa yang terkait erat dengan yang rasional, dengan akal budi atau nalar. Dengan itulah tokoh utama dalam Politeia adalah filosof. Salah satu bagian dari Politeia Sokrates pun menyatakan, penyair tak berbeda dari perupa. Ia hanya “memperdulikan bagian rendah dari jiwa”, dan dengan demikian “membangkitkan dan menumbuhkan dan atau memperkuat perasaan-perasaan”. Ia “menciderai nalar” dan “memanjakan sifat irrasional”.

Perdebatan filsafat dan puisi seperti yang disampaikan Plato menjelaskan bahwa filsafat secara tidak langsung mengedepankan rasional atau akal. Berbeda dengan puisi, dalam hal ini yang diciptakan oleh seorang penyair, tentunya menjunjung tinggi wilayah rasa atau irrasional. Bersamaan dengan itu, penyair tidak menggunakan nalarnya. Ia hanya menerima yang dituangkan ke dalam dirinya oleh “Dewi Inspirasi”.

Begitulah kenyataanya, seorang seniman memang memiliki cara pandang yang unik. Mereka selalu melihat persoalan dari sudut yang mendasar. Karena itu, tidak heran bila seniman dianggap selalu berpikir kritis. Acap kali fenomena-fenomena yang berkembang dalam masyarakat dijadikan sebagai ide dalam menciptakan maha karyanya. Kondisi ini menjelaskan sisi sensitifitas seorang seniman dalam menangkap gejala-gejala yang terjadi pada lingkungan sekitar cukup baik.

Harapan saya berdasarkan runtutan cerita di atas, stakeholder saat ini akan lebih baik jika mulai membangun relasi dan sedikit menyisihkan ruang untuk memikirkan nasib seni budaya di lingkungan kota yang kita cintai ini. Dengan demikian, mungkin kota ini akan terlihat lebih bergairah dan mempesona. Bahkan, yang paling berdampak posistif adalah akan tercipta dengan sendirinya jati diri kedaerahan kota yang terkenal dengan multikultural ini.

Sebagai penutup saya teringat dengan istilah “Jika politik sudah menjadi liar tanpa kendali, maka seni harus turun gunung untuk menjinakkannya.” Sepenggal kalimat tersebut saya temukan dari sebuah opini di media online republika.co.id, (terbit 20 Februar1 2021) yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, seorang ulama sekaligus salah satu cendikiawan Indonesia. Menurut beliau, seni adalah upaya untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia agar dibimbing oleh keindahan yang nyaris tanpa batas itu. Karenanya, sudah saatnya di sini para seniman dan sastrawan memiliki peran untuk turut memikul tugas penting ini agar kaum politisi punya kepekaan dan rasa tanggung jawab moral yang tinggi dan kuat dalam berkiprah untuk kepentingan rakyat banyak. Virus seni dan sastra yang disuntikkan ke dalam otak dan batin politisi diharapkan akan mampu menyerap segala aspirasi yang di teriakan masyarakat, hari ini, esok, dan seterusnya. **

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.