Puisi untuk Perempuannya

Ilustrasi

SEGURAT  kata dia tuliskan dalam sebuah kertas lusuh pada malam yang merenta. Pada saat semua orang terlelap dalam mimpi indahnya. Pada saat semua orang sudah terbuai di peraduannya. Ketika semua mata terpejam, dia masih tetap merangkai kata demi kata.

Menciptakan sebuah puisi. Diiringi semilir angin malam yang kadang menghujam sekujur tubuhnya hingga badan kurusnya menggigil, lelaki itu terus menggores kata demi kata hingga tersusun indah sebuah kata demi kata dalam satu puisi di kertas yang main lusuh.

Bacaan Lainnya

“Aku harus menciptakan sebuah puisi untuknya,” ujarnya dalam hati. Seolah malu dengan burung hantu yang masih bertengger di pohon kayu belakang rumahnya dan belum terlelap dalam buaian mimpi. Dan menatapnya dengan tajam.

Di kampungnya yang damai, lelaki itu dikenal sebagai lelaki berpuisi. Semua orang memanggil dengan sebutan akrab itu. Semua orang mengenalnya karena kepiawaiannya berpuisi. Hanya dengan puisi dia menyampaikan aspirasi. Dengan puisi dia menyuarakan suara hatinya. Dan dengan puisi dia merasa bermartabat sebagai manusia.

“Dengan puisi, ku genggam dunia,” teriaknya pada suatu malam dalam pentas puisi di Kampungnya.

Penonton bertepuk tangan. Gemuruh. Suara lelaki itu makin lantang. Selantang suara para wakil rakyat di lembaga terhormat yang kini memperjuangkan Hak Angket untuk KPK. Keringat mengucur deras dari tubuhnya. Membasahi bajunya. Wajahnya semringah.

Lelaki itu terus menulis dan menulis. Bekas kertas berserakan di lantai rumahnya. Entah kenapa kali ini idenya mandeg. Tak seperti biasanya, lancar. Dipandanginya rembulan dari jendela rumahnya yang belum tertutup. Seolah dia ingin mengadu kegundahan yang melanda otaknya.

Diambilnya sebatang rokok yang masih tersisa di asbak yang tak habis dihisapnya, lalu dibakarnya. Asapnya menembus dinding rumahnya. Membubung tinggi, setinggi asanya kepada wanita yang ingin dihadiahkannya sebuah puisi sebagai tanda perkenalan.

Wanita yang dilihatnya dalam suatu perhelatan akbar puisi di Kota Kabupaten. Wanita yang mampu membius dirinya hingga angannya membubung tinggi ke angkasa raya. Wanita yang lembut tapi garang bak singa podium saat membacakan puisi. Wanita yang mengingatkannya kepada Ibunya.

“Aku harus berkenalan dengan wanita itu dan menyuntingnya. Akan kupinang dia untuk anak-anakku,” pikirnya dalam hati usai melihat penampilan wanita itu membaca puisinya yang bertema tentang cinta dan neraka.

Usai pentas akbar puisi malam itu, lelaki berpuisi itu tak bisa bertemu dengan wanita puisi pujaannya. Panitia telah mengamankannya dari serbuan fans nya yang menghampirinya tanpa malu. Dan lelaki itu hanya melongo saja, saat wanita itu sudah masuk ke dalam mobil bersama dengan rombongan panitia yang membawanya pergi membelah malam Kota yang sepi. Entah kemana lenyapnya. lelaki itu kembali terbengong. Hanya tersisa senyuman manis dari wanita itu yang dilihatnya dari dalam kaca mobil yang bening, sebening malam itu.

Lelaki berpuisi itu tak putus asa. Sebagai lelaki jantan, tak layak dia berputus asa. Tak ada kamus putus asa dalam jiwa seorang lelaki sejati seperti dirinya. Sekali layar terkembang, pantang surut untuk kembali ke pantai. Demikian pepatah yang sering didengarnya dari para sesepuh kampungnya.

“Sebagai lelaki itu kamu harus berani selama menurut hatimu langkahmu benar. Jangan mudah putus asa,” nasehat sesepuh kampung kepada dirinya.

“Maju terus pantang mundur untuk mencari cinta. Jangan cengeng sebagai lelaki. Mengeluh itu bukan tipe lelaki kampung kita. Belajarlah dari pejuang kita dahulu saat menundukan Belanda,” lanjut sesepuh kampung yang terus terngiang di telinganya.

Dan lelaki itu bukan lelaki cengeng. Dia lelaki jantan. Kendati berkas-berkas kertas telah menggunung memenuhi lantai rumahnya, dia terus menulis dan menulis hingga menemukan rangkaian kata yang bermakna dan sangat puitis. Dia sangat yakin kali ini puisinya bukan hanya akan sekedar terpampang di halaman budaya koran, tapi puisinya akan mampu menghipnotis wanita puisi itu.

“Kutulis puisi ini untukmu wahai wanita puisi,’ desisnya pelan. ” Dengan puisi ini kusampaikan suara hatiku untukmu,” lanjutnya dalam hati. Seolah malu dengan kucing hutan liar yang mendengus mencari mangsanya di hutan kecil dekat rumahnya. ” Kupersembahkan puisi ini untukmu, wahai wanita puisi,” tulisnya dalam alinea terakhir puisi itu.

Dunia sastra geger, usai puisinya dimuat di koran nasional. Semua pengamat memandang puisi itu sebagai genre terbaru dalam khasanah puisi tanah air. Semua mata pecinta sastra mengagungkan dirinya. Namanya kini menjulang tinggi hingga terangkat ke langit. lelaki berpuisi itu kini telah menyejajarkan diri dengan penyair klas nasional.

Undangan membaca puisi pun mengalir bak air bah yang datang terus menerus tanpa henti. Lelaki itu kini bak selebriti. Wajahnya mulai menghiasi koran dan televisi. Semua koran meminta puisinya untuk dimuat di rubrik sastra. Namanya sedan naik daun.

Dan yang amat membahagiakannya, kali ini dia akan membaca puisi bersama dengan wanita puisi yang dikaguminya, dicintainya bahkan ingin dipinangnya dalam satu panggung. Dan sebuah puisi spesial telah dia ciptakan untuk pertunjukan malam itu. Dia akan menyampaikan kepada dunia, bahwa lewat puisi dia akan mengabarkan kepada semua orang bahwa dia akan meminang wanita puisi itu dengan puisinya.

Lelaki itu terkulai lemas, ketika pembawa acara menyebutkan wanita puisi yang amat dikaguminya ternyata hadir bersama suami dan anaknya. Jiwanya luluh. Batinnya tersiksa. Dan ketika naik panggung lelaki berpuisi itu langsung roboh. Naskah puisi yang ada di tangannya pun terbang melayang dibawa angin malam. Lelaki itu pun pingsan. Panitia pun kalang kabut. Menggotong tubuh lemahnya ke dalam mobil ambulan. Keriuhan sesaat terjadi di belakang panggung.

Dari kejauhan, suara wanita puisi itu terus menggemuruh malam bersama puisi indahnya. Suara lantangnya seolah menantang rembulan malam yang enggan bersinar. Suaranya seolah menenggelamkan suara sirene ambulan yang berlari kencang menghantar lelaki berpuisi itu ke Rumah Sakit.

Wahai rembulan yang hitam pekat,

Bersinarlah,

Bersinarlah bersama aku,

Walaupun kita tak bisa bersama dalam satu harapan  

Puisi terus dilantangkan wanita puisi ini dengan suara jiwa yang lantang seolah menantang malam yang kian menjauh. Tepuk tangan penonton pun bergemuruh. Riuhkan malam. Segemuruh jiwa lelaki berpuisi yang kini harus terkulai di Rumah Sakit melawan gejolak jiwa. (**)

Karya: Rusmin Toboali

Rusmin Toboali
Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.