Senandung Air
janganlah api dibalas api – nanti dia malah membesar dan membakar – jika berniat memadam – siramlah dia dengan air – maka panas pun akan hilang – terlarut dalam senyawa penentram.
tapi api itu takkan pernah bisa terpadamkan – jika air tak lagi tersedia di sekitar – tidak mengisi tempat wudhu – tidak mengaliri sungai berliku – dan tak lagi bisa bersembunyi di selisik pepohon hutan.
jangan sesekali kau bermimpi padamkan api – dengan air kemasan – sebab air itu sudah tersekat merek dagang – yang pemakaiannya harus terkalkulasi dengan uang (Palembang, 30 Maret 2021).
Teko
memandangi teko – ada hikmah yang terpahat – betapa warna hati dan pikiran – menentukan corak asupan – soal apakah air putih, teh, kopi, ataupun susu – itu tak ubahnya sekedar pilihan.
di teko ada pula lukisan kemuliaan – betapa ikhlasnya dia menyimpan air sebelum dituang ke gelas – untuk melayani tuan dan tetamu – dia tak ubahnya seperti guru yang rela mengisikan ilmu ke muridnya – karena khawatir ilmunya tidak bermanfaat – dia juga lambang pelayanan terbaik dan ketaatan – agar penggunanya terpuaskan.
pada teko kita pun bisa belajar – soal pentingnya asupan – soal pentingnya kebermanfaatan – soal pentingnya pelayanan dan ketaatan – yang barangkali selama ini sempat terabaikan (Palembang, 3 Mei 2021).











