Miris! Raskin dari Bulog Berkutu dan Berbau Tak Sedap

Kondisi raskin yang diterima warga Pantai, Kecamatan Muara Rupit, Kabupaten Muratara yang tak layak dikonsumsi, Selasa (20/9).

Muratara, Sumselupdate.com – Bantuan beras bagi masyarakat miskin dari pemerintah tidak layak konsumsi lantaran berkutu dan berbau tidak sedap.

Kasus memiriskan ini terungkap di Desa Pantai, Kecamatan Muara Rupit yang diberikan melalui pihak Bulog kepada Pelaksana Jabatan Sementara (Pjs) Kepala Desa (Kades) Desa Pantai, David Haryadi, Senin (19/9) malam.

Bacaan Lainnya

Menurut David Haryadi, dirinya tidak menerima kondisi beras tersebut dan akan berupaya mengembalikannya ke pihak Bulog, karena dikhawatirkan malah akan memicu polemik di masyarakat.

“Kami tidak terima dengan kondisi berasnya. Ini rencananya akan kami kembalikan,” ungkapnya, Selasa (20/9).

Ia menyampaikan, beras bulog yang diberikan oleh pemerintah ini biasanya sebanyak 7.200 kilogram yang dibagikan per triwulan atau tiga bulan sekali.

“Kita sangat sayangkan, karena beras tersebut tidak layak kosumsi. Selain banyak kutu berwarna kekuning-kuningan, berasnya juga berbau dan kualitas pun tidak baik untuk di konsumsi,” kata dia.

Ia berharap, agar pihak Bulog dapat memberikan beras dengan kualitas lebih baik, minimal warga tidak kecewa saat mengonsumsi berasnya.

“Sebab masyarakat miskin pun, butuh pasokan makanan yang sehat,” tegasnya.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Musirawas Utara (Muratara), Zainal Arifin Daud saat dihubungi menjelaskan, pihaknya telah menerima laporan tersebut dan telah ditindaklanjuti.

“Kita memang akui kecolongan terkait hal ini. Tapi, pembagian beras ini kan banyak. Jadi tidak bisa terkontrol satu persatu. Memang, kita ada tim yang biasa melakukan pengecekan, tetapi kebanyakan kades saat ini sering mengambil sendiri berasnya sebelum kita bagikan. Itu yang terkadang lepas dari pengawasan terkait kualitas berasnya,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Kansilog Perum Bulog Lubuklinggau, Joko Susilo mengaku, pihaknya telah melakukan penarikan kembali beras tersebut setelah mendapatkan informasi bahwa beras tersebut berkutu dan berbau tidak sedap.

“Memang benar, tetapi sudah kita lakukan penarikan kembali. Tetapi, untuk beras penggantinya belum kita kirimkan lagi. Setelah dapat informasi itu, langsung kita tarik. Mungkin ini tidak terpantau. Sebab, sering sekali saat masih berada di gudang, kutu-kutu kadang terlihat tidak ada. Namun, setelah didistribusikan baru ketahuan,” ungkapnya. (ain)

 

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.