Kisah Bocah Penjual Keliling, Tulang Punggung Keluarga yang Bercita-cita Jadi TNI

Penulis: - Rabu, 7 Februari 2024
Muhammad Rizky Aditya.

Palembang, sumselupdate.com – Muhammad Rizky Aditya, siswa kelas 5 SD MI Assegaf yang bercita-cita menjadi anggota TNI ini merelakan waktu belajar dan bermain untuk jualan keliling.

Bocah 11 tahun ini berawal viral di media sosial lantaran berjualan makanan ringan keliling di wilayah Plaju, demi pengobatan sang ibu, menghidupi nenek, dan adik-adiknya.

Disambangi di kediamannya di Jalan DI Pandjaitan Lorong Bakti Kecamatan Seberang Ulu 2, Rabu (7/2/2024), Rizky pulang sekolah sekitar pukul 12.00, biasanya pukul 13.00 WIB mulai berjualan.

Namun karena sudah didatangi oleh PJ Walikota Palembang Ratu Dewa, Staff Kepresidenan, dan Dinas Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPPA), Rizky berhenti berjualan.

Advertisements

“Tidak boleh jualan lagi mulai sekarang, disuruh belajar saja,” kata Rizky sambil makan nasi dengan mie, saat dibincangi Rabu (7/2/2024).

Rizky bercerita berjualan untuk mengumpulkan dana pengobatan jantung ibunya. Namun baru-baru ini sang ibu meninggal dunia karena sakit jantung.

Rizky atau Iki (sapaan akrabnya) menjual makanan ringan buatan neneknya seperti cireng, keripik ubi, kerupuk, dan lainnya.

“Sudah jualan sejak kelas 3 SD, waktu masih ada ibu, ibu juga ikut jualan,” katanya.

Meskipun menghabiskan waktu seharian untuk berjualan, Rizky berprestasi di sekolah.

“Naik kelas 5 juara 2 di kelas,” katanya.

Namun, Rizky tetap berjualan untuk menghidupi nenek dan ketiga adiknya yang berusia 5 tahun, 3 tahun dan 2 tahun. Kata Rizky, dia berjualan sampai pukul 22.30 WIB.

“Jualannya sampai setengah 10 malam, keliling sampai ke Sentosa dan PGRI, sehari dapat Rp150.000-Rp200.000,” kata Rizky.

Pendapatan perharinya ini dia berikan kepada sang nenek untuk membayar kontrakan juga biaya keperluan sehari-hari.

Rizky tinggal di sebuah kontrakan dengan nenek dan tiga adiknya. Rizky mengatakan, dirinya harus berani meski berjualan keliling sendiri.

“Tidak takut walaupun sendirian, walaupun tidak punya orang tua harus berani, Iki juga mendoakan Ibu yang meninggal,” katanya.

Tak jarang dirinya ngamen saat jualannya sepi pembeli. Bahkan sekali Ukulele miliknya dirampas orang lain dan jualannya diambil orang.

“Kalau orang mengambil makanan kita, berikan saja, anggap saja sedekah agar mendapatkan pahala,” ucapnya.

Sementara itu, Sa’adah, nenek Rizky membantah mengekploitasi anak seperti tuduhan selama ini. Sa’adah membantah memaksa Rizky sengaja disuruh berjualan.

Menurutnya, ini karena kondisi ekonomi yang sulit. Sa’adah berupaya dengan membuat jajanan yang dijual oleh Rizky.

“Saya yang menjaga keempat anak ini sejak ibunya meninggal, karena ayahnya (menantu) tidak memberi nafkah anak-anaknya, untuk dia sendiri saja tidak cukup, kerjanya main (judi) Slot,” katanya.

Mengucapkan syukur, dan berterimakasih atas kunjungan, perhatian, dan bantuan yang diberikan, disisi lain sang nenek juga cukup resah, dan takut didatangi pihak kepolisian dan Dinas PPPA.

“Saya takut polisi, takut ditangkap karena dianggap mengeksploitasi anak (cucu saya), apalagi tadi dari Dinas PPPA itu juga sudah mengatakan bahwa Iki tidak boleh lagi jualan,” ungkapnya.

Dari cerita sang Nenek soal Rizky, merupakan sosok anak yang berbakti, sopan, dan pekerja keras.

Walaupun masih anak-anak, Iki memang sejak sang ibu masih hidup sudah ikut jualan untuk membantu keuangan keluarga, dan pengobatan sang ibu yang sakit waktu itu.

“Ibu Iki almarhumah Nita merupakan anak perempuan saya, sejak berpisah dengan suaminya yang tidak bertanggung jawab (tidak menafkahi) pulang ke Palembang,” katanya.

Almarhumah sewaktu masih hidup bekerja keras, jualan, dan bekerja dipasar Induk. Sakit jantung bocor selama 1,5 tahun hingga meninggal beberapa waktu ini.

“Memang waktu jualan itu, almarhumah sudah mengajak Iki juga jualan agar hasil yang didapatkan lebih banyak jika yang mencari berdua,” katanya.

Iki ikut jualan juga untuk menambah pengobatan sang ibu waktu itu, dan mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarga yang ada didalam rumah, nenek, dan 2 adik laki-laki dan 1 adik perempuan nya. Dan masih berlangsung setelah ibunya meninggal.

“Saya sudah minta jam 7 malam pulanglah, tapi masih saja jam 10 malam baru pulang,” katanya.

Sekarang, Iki tidak boleh lagi berjualan. Karena dilarang Dinas PPPA karena dianggap mengeksploitasi anak, padahal kami tidak punya sumber pencarian lain, kalaupun hasil makanan ringan yang biasa dijual Iki ini di titipkan ke warung laku nya lama (kurang laku).

“Dari Dinas PPPA tadi juga belum ada solusi seperti apa. Sebenarnya kami ditawarkan Dinsos untuk tinggal di semacam asrama, nanti anak – anak yang sekolah akan diantar sekolah, tapi untuk sumber pencarian juga belum tau apa, sementara kalau mau di tampung seperti itu mau berapa lama, dan sampai kapan, makanya saya tolak,” katanya.

Mengenai bantuan pendidikan yang diberikan oleh staff kepresidenan sebesar Rp60 juta ini sifatnya dana yang dibekukan.

“Ini untuk 4 anak ini, masing-masing 15 juta untuk anak – anak sekolah (Rp60 juta total) dibekukan dan tidak bisa diambil, ketika dibutuhkan untuk pendidikan lapor saat mau dicairkan,” katanya. (Iya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.