Harga Batu Bara Turun pada 2024 Akibat Sentimen India dan Tiongkok

Penulis: - Kamis, 11 Januari 2024
Tambang Batubara/instagram

Jakarta, Sumselupdate.com —¬†Harga batu bara pada Rabu (10/1/2024) mengalami penurunan yang dipicu oleh sentimen dari India dan Tiongkok.

Harga batu bara Newcastle untuk kontrak berjangka Januari 2024 mengalami penurunan sebesar US$ 2,15 menjadi US$ 133,5 per ton pada Rabu tersebut. Sementara itu, kontrak berjangka Februari 2024 melemah sebesar US$ 2,7 menjadi US$ 131,5 per ton, dan kontrak berjangka Maret 2024 terkoreksi sebesar US$ 2,2 menjadi US$ 130,05 per ton.

Di sisi lain, harga batu bara Rotterdam kontrak berjangka Januari 2024 turun sebesar US$ 2,25 menjadi US$ 109, kontrak berjangka Februari 2024 mengalami penurunan sebesar US$ 2,45 menjadi US$ 105,7, dan kontrak berjangka Maret 2024 melemah sebesar US$ 2,4 menjadi US$ 102,95.

Laporan dari CoalMint menunjukkan bahwa lalu lintas batu bara di pelabuhan turun 12% secara bulanan pada Desember 2023 seiring dengan penurunan volume impor. Di India, impor batu bara kokas turun 5% secara bulanan menjadi 0,88 juta ton pada Desember 2023.

Advertisements

Sementara itu, Tiongkok melaporkan bahwa Provinsi Shanxi telah melampaui target produksi batu bara tahunannya dengan mencapai 1,37 miliar ton pada 29 Desember 2023, menunjukkan peningkatan lebih cepat dari jadwal. Produksi batu bara akumulatif di Shanxi mencapai hampir 10 miliar ton, menyumbang 25% dari total produksi batu bara Tiongkok.

Pada 2021 dan 2022, produksi batu bara di Shanxi masing-masing sebesar 1,19 miliar ton dan 1,31 miliar ton. Provinsi ini menargetkan produksi batu bara yang stabil sebesar 1.560 miliar ton pada 2025, mendukung sekitar 1,4 miliar ton per tahun dari sekitar 900 tambang batu bara.

Mysteel memprediksi bahwa impor batu bara termal Tiongkok akan mengalami penurunan pada 2024, sejalan dengan berkurangnya minat pembeli Tiongkok terhadap batu bara termal impor. Hal ini disebabkan oleh penilaian ulang terhadap efektivitas biaya pengiriman luar negeri, penyesuaian bea impor batu bara oleh Tiongkok, dan perubahan permintaan dari penambang asing.

Proyeksi Mysteel juga menunjukkan bahwa Indonesia dan Australia, yang masih menikmati tarif impor nol berdasarkan kebijakan baru Tiongkok, kemungkinan akan memperluas pangsa pasar mereka di Tiongkok pada 2024. Namun, keduanya juga dihadapkan pada kendala berkelanjutan dalam meningkatkan produksi batu bara karena margin keuntungan yang kecil dan kondisi cuaca yang buruk.(bsc)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.