Buru Pemberi Modal, Polisi Periksa Pemilik dan Pengelola Lahan Tambang Batubara Ilegal yang Longsor di Muaraenim

Evakuasi tambang batubara ilegal longsor di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung, Muaraenim

Laporan: Haris Widodo dan Endang Saputra

Palembang, Sumselupdate.com – Kepolisian Daerah Sumatera Selatan hingga kini terus mengusut peristiwa longsornya tambang batubara ilegal di Desa Penyandingan, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muaraenim, Sumsel.

Bacaan Lainnya

Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Supriadi menyebut, pihaknya bersama Polres Muaraenim saat ini tengah mendalami adanya keterlibatan pemberi modal terhadap aktivitas penambangan ilegal tersebut.

“Bersama tim dari Polres Muaraenim, saat ini kita juga sedang mendalami kasus longsornya tambang ilegal tersebut, termasuk juga pemberi modal yang saat ini sedang diburu,” ujar Supriadi, Jumat (23/10/2020).

Supriadi menjelaskan, pihaknya meyakini adanya pemodal di balik kasus longsornya tambang ilegal tersebut. Terlebih setelah tiga orang ditetapkan sebagai tersangka.

“Pasti ada pemodal, makanya penyidikan terus kita dalami. Sejauh ini lahan di lokasi kejadian merupakan lahan milik masyarakat sekitar dan baru beberapa hari melakukan aktivitas,” ucap Supriadi.

Tak hanya menetapkan tiga tersangka, kata Supriadi, dua orang sebagai pemilik lahan yakni Helmi dan Ita sebagai pengelola lahan juga diperiksa di Mapolres Muaraenim.

“Pemilik dan pelaksana masih diperiksa di Polres dan tidak menutup kemungkinan akan jadi tersangka juga, masih menunggu hasil pemeriksaan penyidik,” ucapnya.

Tiga tersangka kasus longsornya tambang batubara ilegal

Tetapkan tiga tersangka

Sebelumnya, jajaran Kepolisian Resort (Polres) Muaraenim pada Rabu (22/10/2020) sekitar pukul 23.00 WIB berhasil mengamankan tiga orang laki-laki yaitu Bambang (38), Kecamatan Kepoh Baru, Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur), Mahmud (26), warga Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran Lampung Selatan, dan Dadang Supriatna (56), warga Kecamatan Pangelangan Kabupaten Bandung Selatan.

Ketiganya, bersama bersama 11 orang lainnya yang menjadi korban meninggal dunia dalam kejadian penambangan liar tersebut, diduga melakukan kegiatan penambangan batubara tanpa Izin Usaha Penambangan (IUP) atau Izin Usaha Penambangan Rakyat (IUPR) atau IUPK di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muaraenim.

Pada saat menggali dan membuat jalan di lokasi penambangan batubara tanpa izin tersebut, 13 pekerja berada di dalam galian untuk mengangkut lumpur dan menggali di lokasi penambangan dan satu orang pekerja di luar galian.

Di saat 13 pekerja sedang menggali dan sebagian estafet mengangkut lumpur yang dimasukkan ke dalam karung sekira pukul 13.00 WIB, tiba-tiba tanah di tebing sebelah kanan jalan kurang lebih setinggi sembilan meter tersebut longsor dan menimpa sebelas orang pekerja yang sedang berada di lokasi dan mengakibatkan kesebelas orang pekerja tersebut tertimbun dan dua orang pekerja selamat tidak terkena timbunan.

Kemudian dua orang pekerja yang berada di dalam galian yang selamat berteriak minta tolong. Setelah itu dilakukan evakuasi terhadap sebelas orang pekerja yang tertimbun dan dibawa ke puskesmas Tanjung Agung.

Barang bukti yang diamankan polisi

Akibat dari penambangan tanpa izin itu, mengakibatkan sebelas orang meninggal karena tertimpa dan tertimbun oleh tanah yang berada di atas pekerja pada saat melakukan kegiatan penambangan.

Kapolres Muaraenim AKBP Donni Eka Syaputra, SH, SIK, MM didampingi Kanit 4 Subdit 4 Ditreskrimsus Polda Sumsel Kompol Tri Wahyudi, SH dan Kasat Reskrim Polres Muaraenim AKP Dwi Satya Arian, SIK, SH, MH, dalam konfrensi pers pada Kamis (22 /10/2020) pukul 18.00 WIB di Depan Mako Polres Muaraenim menjelaskan, setelah dilakukan olah TKP dan Penyelidikan oleh anggota Polsek Tanjung Agung dan Satreskrim polres Muaraenim yang di-backup Ditkrimsus Polda Sumsel.

Diketahui ada tiga orang penambang yang selamat yang melakukan penambangan tanpa izin tersebut, kemudian pada hari Rabu (22/10) sekitar pukul 23.00 WIB ketiga orang tersebut berhasil diamankan yang bernama Bambang, Mahmud, dan Dadang Supriatna.

Kemudian dimintai keterangan dan berdasarkan alat bukti yang ada ketiga orang tersebut, patut diduga sebagai pelaku penambangan batubara tanpa izin.

“Setelah itu dilakukan gelar perkara yang dihadiri oleh anggota Ditkrimsus Polda Sumsel, anggota Sat Reskrim Polres Muaraenim, dan anggota Polsek Tanjung Agung, mendapatkan hasil dari gelar perkara dapat ditingkatkan ke tahap penyidikan dan ketiga pelaku tersebut dinaikkan status dari saksi menjadi tersangka,” ungkapnya.

Doni mengatakan, barang bukti yang disita dalam perkara tersebut yaitu kunci pas shanghai 30 sebanyak satu buah, blencong dua buah, cangkul empat buah, ember tiga buah, lepis panjang warna coklat/putih dua buah, baju kaos lengan pendek warna kuning satu buah.

Training panjang hitam satu buah, topi enam buah, sepatu boot satu pasang, sepatu ket (1 ½ pasang) tiga buah, serpihan batubara tiga buah, serpihan batu bara tiga bongkah, karung 15 buah, dan motor Honda Revo warna hitam dua unit.

“Modus dan motif pelaku yaitu pelaku melakukan kegiatan penambangan batubara di lahan yang tidak memiliki IUP atau IPR atau IUPK, tujuan pelaku melakukan kegiatan penambangan batubara tanpa izin tersebut untuk memenuhi kebutuhan ekonomi yang dibayar oleh Purwadi (almarhum) sebesar Rp1.800 s/d Rp2.250 per karung,” lanjutnya.

Terakhir Doni mengungkapkan ketiganya melanggar Pasal 158 Undang-undang Nomor 3 tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-undang 04 tahun 2009 tentang pertambangan dan batubara jo pasal 55 KUHP.

“Pidana penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp100.000.000.000,” ujarnya.

Adapun korban yang meninggal di lokasi penembangan tersebut yaitu M Darwis (46) warga Desa Tanjung Lalang, Hardiyawan warga Desa Tanjung Lalang, Rukasih, warga Desa Tanjung Lalang, Sandra Khaerudin (25), Mulyadadi, warga Cipari Jawa Barat.

Joko Suprianto, (26), warga Desa Penyandingan, Purwadi, (60), warga Desa Penyandingan, Sulpiawan (30), warga Desa Tanjung Lalang, Sumarlin (35), warga Kisam Tinggi, Muara Dua, OKU Selatan, Hupron asal Lampung, Komardani (48), warga Desa Sukaraja, dan Labisun (40) warga Lampung. (**)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.