Berkat PERTAGANIK, Wanita Tani Pun Tersenyum

Ibu-ibu yang tergabung di Kelompok Wanita Tani (KWT) Turi Putih, Desa Karya Mulia, Kecamatan Rambang Kapak Tengah, Kota Prabumulih antusias mengembangkan pertanian sayuran dan tanaman obat keluarga

Prabumulih, sumselupdate.com – Puluhan ibu rumah tangga dari beberapa Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Karya Mulia, Kecamatan Rambang Kapak Tengah, Kota Prabumulih terlihat ceria. Mereka juga nampak begitu antusias menjelaskan berbagai hal tentang usaha PERTAGANIK (Pertanian dan Toga Organik) yang dikelolanya kepada awak media.

Suasana tersebut tergambar ketika para wartawan Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel melakukan field trip di salah satu kawasan pemberdayaan masyarakat oleh kontraktor kontrak kerjasama (KKKS) migas di wilayah Sumatera Selatan ini, Selasa (1/10/2019).

Bacaan Lainnya

Menurut Ketua KWT Turi Putih, Maryati, dia dan kawan-kawan termotivasi menekuni usaha menanam sayuran dan tanaman obat keluarga (toga) secara organik usai mengikuti pelatihan yang dilakukan PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field di Balai Desa Karya Mulia. Kegiatan itu berlangsung pada pertengahan April 2019.

“Saat itu ibu-ibu rumah tangga di desa ini diberi pemahaman tentang tanaman sayuran dan toga organik serta praktiknya. Banyak yang tertarik. Tidak lama setelah itu kami membentuk kelompok dan menerapkannya”, ujar Maryati.

Usaha tersebut dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan rumah. Setelah tiga bulan berjalan, usaha ini pun diakuinya menghasilkan. Mereka sudah dua kali memanen sayuran seperti bayem, kangkung, dan sawi. Selain dikonsumsi sendiri, hasilnya juga dijual kepada warga di desanya.

“Alhamdulillah, kita tidak pusing lagi dalam memenuhi kebutuhan sayur sehari-hari. Kita juga dapat penghasilan tambahan dari sayur yang kita jual,”tuturnya.

Manfaat dari program CSR (corporate social responsibility) PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field ini dirasakan juga oleh ibu-ibu di KWT Bina Bersama. Seperti diakui Ketua KWT Bina Bersama, Eis Kartika, program CSR ini telah menginspirasi mereka untuk mengembangkan toga secara organik.

“Setidaknya kita jadi sadar kalau toga organik itu penting bagi kesehatan keluarga. Kami juga tergerak karena usaha ini bisa dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga sebagai pekerjaan sampingan dan penambah penghasilan keluarga,”ujar Eis Kartika.

Dia lalu mencontohkan, berkat program CSR itu, kini seluruh anggota KWT Bina Bersama yang berjumlah 23 orang bisa membuat pupuk organik/MOL. Seperti yang terpajang di demplot mereka, pupuk organik itu meliputi MOL Nasi (penyubur tanah), MOL Rebung (pemercepat pertumbuhan tanaman), MOL Bonggol (penguat batang dan akar), MOL Buah (perangsang buah dan agar buah tidak rontok), dan MOL Gamal (penghijau daun).

“Ternyata MOL tersebut juga bisa digunakan untuk tanaman lain seperti karet. Ini sangat membantu kami dalam mengurangi pengeluaran akibat ketergantungan pada pupuk non organik selama ini. Pembuatan MOL ini tidak butuh biaya mahal karena bahan bakunya ada di sekitar kita,”jelas Eis Kartika.

Meski masih tergolong relatif baru, sebut Eis Kartika, kini kelompok usaha ini telah mampu menghasilkan sejumlah minuman atau ramuan pengobatan bersumber dari toganya. Selain minuman Teh Rosela, ramuan untuk pengobatan sakit paru-paru atau sesak nafas, masuk angin, demam dan panas juga berhasil diusahakan kelompok ini.

Kesadaran akan pentingnya obat herbal berbasis toga juga dimiliki ibu-ibu di KWT Tempuyung. Mereka semakin giat mengembangkan usaha toga setelah mendapat pendampingan tenaga ahli yang didatangkan oleh PT Pertamina seminggu sekali.

“Tidak hanya itu, setiap satu bulan juga ada dokter herbal didatangkan dari Jakarta, untuk konsultasi kesehatan dan cara mengatasi penyakit yang diderita dengan memanfaatkan tanaman herbal. Mereka memotivasi kami menanam tanaman obat-obatan sehingga dapat dimanfaatkan jika ada anggota keluarga yang sakit”, ujar Ketua KWT Tempuyung, Yayah Nur Fajriah.

Dari pendampingan dan konsultasi tersebut, mereka pun menjadi tahu jika sekitar 80 persen tanaman herbal itu bisa ditemukan di lingkungan sekitar. Padahal, selama ini mereka tidak tahu jika tanaman-tanaman itu herbal sehingga sering dibuang dan tidak termanfaatkan.

“Kalau bicara manfaat dari pemberdayaan ini, jelas kebersamaan kita jadi semakin kuat. Kita juga terbantu secara ekonomi, yang selama ini berobat ke dokter dan harus mengeluarkan uang, sekarang tidak lagi karena bisa diobati dengan tanaman obat yang ada,”tuturnya.

Wakil Walikota Prabumulih, Ardiansyah Fikri meninjau tanaman organik usai Peresmian Kawasan Pertaganik PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field di Desa Karya Mulia, Rambang Kapak Tengah, Prabumulih, Selasa (1/10/2019)

 

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Prabumulih, Hesti Widyaningsih, saat mengunjungi demplot tanaman sayur dan toga organik di KWT Tempuyung mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) Prabumulih sangat mendukung usaha produktif yang dilakukan para wanita tani tersebut. Apalagi pemkot dan warga setempat sebenarnya sudah merintisnya sejak 2016. Bahkan daerah binaan ini pernah diikutkan dalam Lomba Toga Tingkat Nasional.

“Alhamdulillah setelah ikut lomba, kegiatan ini terus berlanjut dan berkembang pesat. Terlebih kali ini mendapat dukungan dari PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field melalui program CSR-nya”, ujar Hesti.

Hesti menambahkan, pemanfaatan toga untuk pengobatan keluarga ini sejalan dengan program Walikota Prabumulih, yang ingin mensinergikan antara pengobatan konvensional dan tradisional. Untuk itu, pemerintah melalui Dinas Kesehatan akan mendorong masyarakat agar memanfaatkan pengobatan tradisional melalui obat herbal, akupresur atau akupuntur, sebelum menggunakan pengobatan konvensional.

Untuk pengembangan lebih lanjut seperti pengolahan, pengemasan dan pemasaran, diakui Hesti, ini akan menjadi perhatian Pemkot Prabumulih dengan melibatkan seluruh stake holder terkait.

Sementara itu, CSR Analyst PT Pertamina EP Asset 2 Limau Field Iman Heryawan mengatakan, peresmian kawasan PERTAGANIK di Desa Karya Mulia ini merupakan wujud pemenuhan tanggungjawab sosial perusahaan kepada lingkungan di sekitarnya. Dia pun berharap tujuh KWT binaan program CSR di desa ini dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat, baik secara sosial, ekonomi, ataupun budaya. (shn)

Yuk bagikan berita ini...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.