Palembang, Sumselupdate.com – Berawal dari keprihatinan terhadap kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pegiat lingkungan Palembang, Suyanti, aktif mengedukasi masyarakat tentang pengolahan limbah organik menjadi cairan eco-enzyme.
Melalui gerakan berbagi gratis, ia mengajak masyarakat memanfaatkan sisa kulit buah dan sayuran untuk mendukung upaya menjaga lingkungan.
Ketua Komunitas Rumah Enzim Bakti Nusantara (REBN) tersebut mengembangkan gerakan ini dengan menggandeng komunitas dan pelaku usaha lokal.
Suyanti memperkenalkan pemanfaatan eco-enzyme yang diencerkan dan disemprotkan di lingkungan sekitar sebagai salah satu upaya yang diyakini dapat membantu mengurangi polutan udara dan kabut asap.
Selain mengurangi limbah dapur, eco-enzyme dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, seperti membantu mengurangi bau tidak sedap dan menyuburkan tanaman.
Baca juga: Rizki Faisal Dorong Karhutla Ditetapkan sebagai Bencana Nasional
Mengolah Limbah Dapur Menjadi Cairan Fermentasi
Di halaman belakang rumahnya, Suyanti memperlihatkan proses pembuatan eco-enzyme menggunakan sejumlah baskom, ember plastik, dan gentong berwarna biru. Bahan-bahan yang digunakan berupa limbah organik, terutama kulit buah dan sisa batang sayuran, yang dicampur dengan air serta molase.
Molase merupakan cairan kental berwarna cokelat tua yang dihasilkan sebagai produk sampingan pengolahan tebu atau gula bit. Bahan ini digunakan sebagai sumber gula dalam proses fermentasi. Jika tidak tersedia, molase dapat diganti dengan gula merah atau gula aren yang telah dicairkan.
Menurut Suyanti, pemilihan bahan organik perlu diperhatikan. Ia menyarankan penggunaan kulit buah dan batang sayuran. Baik kulit buah jeruk, mangga, durian, apel, dan lainnya kecuali kulit alpukat dan kelap.
Baca juga: Karhutla Meluas ke 17 Provinsi, Presiden Didesak Tetapkan Target Terukur
“Jangan menggunakan kulit alpukat dan kelapa karna dalam campuran yang dibuatnya karena kandungan minyaknya,” katanya.
Untuk membuat eco-enzyme, Suyanti menerapkan perbandingan bahan 1:3:10, yakni satu bagian gula atau molase, tiga bagian bahan organik, dan sepuluh bagian air.
“Bahan organik dari satu baskom untuk 15 kilogram. Perbandingannya 1:3:10. Jadi satu botol minum mineral ukuran 1,5 liter gula atau molase atau juga bisa dengan gula merah atau gula aren yang sudah dicairkan, dengan tiga kilogram bahan organik dan sepuluh bagian air,” jelasnya.
Setelah semua bahan dicampurkan, larutan dimasukkan ke dalam wadah tertutup untuk menjalani proses fermentasi. Wadah harus ditangani sesuai kebutuhan fermentasi agar proses berlangsung dengan baik dan tekanan gas yang terbentuk tidak menimbulkan risiko.
Proses pembuatan eco-enzyme membutuhkan waktu setidaknya tiga bulan. Suyanti menyebut fermentasi yang lebih lama dapat menghasilkan cairan dengan karakteristik yang berbeda, bergantung pada bahan dan kondisi prosesnya.
Selama fermentasi, dapat muncul lapisan putih hingga kecokelatan pada permukaan cairan. Kemunculan lapisan tersebut perlu diamati karena kondisi fermentasi dan jenis mikroorganisme yang tumbuh dapat memengaruhi kualitas hasil akhirnya.
Diyakini Membantu Mengurangi Polutan
Suyanti menjelaskan bahwa eco-enzyme kerap dikaitkan dengan produksi ion negatif selama proses fermentasi maupun setelah cairan dipanen. Fenomena tersebut disebut-sebut menyerupai kondisi alami yang ditemukan di sekitar air terjun, ombak laut, atau pepohonan.
Dalam penerapannya, eco-enzyme dipercaya dapat membantu mengikat debu, asap kendaraan, asap rokok, dan partikel yang melayang di udara sehingga partikel tersebut mengendap. Cairan ini juga digunakan oleh sebagian masyarakat untuk membantu mengatasi bau tidak sedap.
Suyanti juga menegaskan bahwa eco-enzyme yang dibuatnya bukan untuk dikonsumsi. Meski ia menyebut cairan tersebut dapat disimpan dalam waktu lama, kondisi dan keamanan produk tetap perlu diperhatikan selama penyimpanan.
Belajar Sejak 2019, Konsisten Membuat pada 2023
Suyanti mengaku pertama kali mengetahui eco-enzyme pada 2019. Ia kemudian mulai konsisten mempelajari dan membuat cairan fermentasi tersebut pada 2023, ketika kabut asap akibat karhutla kembali menimbulkan persoalan kualitas udara.
“Saya belajar dari Dr. Joean,” kata Suyanti.
Dr. Joean Oon, peneliti naturopati asal Penang, Malaysia, dikenal turut mempopulerkan eco-enzyme di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Bagi Suyanti, kegiatan ini bukan sekadar membuat cairan fermentasi, melainkan juga mengajak masyarakat mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah rumah tangga. Limbah kulit buah dan sisa sayuran yang sebelumnya dibuang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk fermentasi.
Ia berharap gerakan yang dimulai dari rumah dapat mendorong lebih banyak warga untuk berpartisipasi dalam menjaga lingkungan, terutama melalui pengurangan sampah organik.
“Niat awalnya untuk berbagi kebaikan. Kita baik dan membagikan kebaikan bisa jadi berkah. Apalagi ternyata eco-enzyme ini bisa jadi penetralisir kabut asap,” ujarnya.
Suyanti mengatakan, sejak mulai konsisten membuat eco-enzyme pada 2023, kegiatan tersebut belum memperoleh bantuan dana dari pemerintah. Seluruh proses dibiayai secara mandiri dan melalui donasi yang dihimpun REBN.
Ajak Masyarakat Berpartisipasi
Melalui REBN, Suyanti membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin belajar membuat eco-enzyme, memanfaatkan limbah kulit buah, atau menyumbangkan bahan organik untuk mendukung kegiatan komunitas.
Masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat menghubungi Suyanti melalui WhatsApp di nomor 0895323332333 atau mengikuti akun Instagram @rebn_official1.
REBN beralamat di Jalan MP Mangkunegara RT 001 RW 01 Nomor 1, tepat di depan Kantor Telkom Palembang. Masyarakat yang ingin memberikan dukungan dana juga dapat menyalurkan donasi melalui rekening BCA nomor 1510391265.
Melalui gerakan tersebut, Suyanti berharap semakin banyak warga yang menyadari bahwa upaya menjaga bumi dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah, yakni memilah sampah, memanfaatkan limbah organik, dan berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan secara berkelanjutan. (Iya)







