Palembang, Sumselupdate.com – Kota Palembang mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tertinggi di Sumatera Selatan (Sumsel), dengan total mencapai 8.204 kasus hingga 18 Oktober 2026.
Tingginya angka tersebut menjadi perhatian karena ISPA menyerang berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak di bawah dua tahun, anak usia sekolah, hingga warga lanjut usia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa, mengatakan Palembang menempati urutan teratas dalam jumlah kasus ISPA dibandingkan kabupaten dan kota lainnya di Sumsel.
“Terbanyak kasus tercatat di Palembang mencapai 8.204 kasus,” ujar Ira, Senin (19/10/2026).
Setelah Palembang, Kabupaten Musi Banyuasin mencatat 3.308 kasus. Berikutnya, Kabupaten Muara Enim dengan 2.310 kasus dan Kabupaten Lahat sebanyak 1.586 kasus.
Sementara itu, Kabupaten Banyuasin mencatat 1.423 kasus dan Kota Lubuklinggau sebanyak 1.417 kasus.
Kasus ISPA Sumsel Turun, tetapi Masih Tinggi
Secara mingguan, jumlah kasus ISPA di Sumsel mencapai 11.021 kasus pada pekan ke-41 hingga 18 Oktober 2026.
Angka tersebut menurun dibandingkan pekan ke-40 yang mencatat 11.995 kasus. Meski demikian, jumlah kasus yang masih mencapai lebih dari 11 ribu dalam sepekan menunjukkan ISPA tetap menjadi perhatian kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data bulanan yang disampaikan Ira, jumlah kasus ISPA di Sumsel mencapai 26.978 kasus. Sementara itu, September 2026 tercatat sebagai bulan dengan jumlah kasus ISPA tertinggi sepanjang tahun ini.
Pada September, kasus ISPA mencapai 52.483 kasus atau meningkat 11,62 persen dibandingkan Agustus 2026 yang mencatat 47.020 kasus.
“Jumlah kasus ISPA di September masih menjadi yang tertinggi sepanjang 2026, yaitu sebanyak 52.483 kasus. Ini mengalami peningkatan 11,62 persen dibandingkan dengan Agustus yang hanya 47.020 kasus,” jelas Ira.
Tingginya kasus ISPA di Palembang menjadi perhatian di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Namun, data jumlah kasus ISPA tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kasus disebabkan oleh kabut asap. Penilaian mengenai faktor penyebab memerlukan data dan analisis lebih lanjut.
Masyarakat, terutama anak-anak dan lanjut usia, perlu mewaspadai gejala gangguan pernapasan. Warga yang mengalami sesak napas atau gejala berat disarankan segera mencari pertolongan medis.
(**)







