IHSG Anjlok 11,57 Persen di Era Prabowo, Terburuk Sejak Krisis Moneter 1998

Writer: - Sabtu, 17 Oktober 2026
Penampakan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Jakarta, Sumselupdate.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan tajam pada Jumat (16/10/2026). Indeks acuan pasar saham Indonesia tersebut merosot 11,57 persen hingga ditutup di level 5.199,96, memicu perhatian terhadap kondisi pasar modal nasional pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Berdasarkan data yang dikutip sejumlah media, penurunan harian tersebut disebut sebagai yang terdalam sejak 8 Januari 1998. Saat itu, IHSG ambruk 11,88 persen hingga berakhir di level 347,11, ketika Indonesia berada dalam tekanan hebat akibat krisis moneter Asia.

Read More

Meski persentase penurunannya hampir sama, kedua peristiwa tersebut berlangsung dalam kondisi ekonomi dan pemicu yang berbeda. Gejolak pasar saham pada Oktober 2026 berkaitan dengan kekhawatiran investor terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal, sedangkan kejatuhan pada 1998 terjadi di tengah krisis mata uang, tekanan perbankan, serta memburuknya kepercayaan terhadap perekonomian nasional.

Kekhawatiran terhadap Status Indonesia di Indeks Global

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia pada Oktober 2026 tidak muncul secara tiba-tiba. Sebelumnya, investor telah menyoroti sejumlah persoalan terkait struktur kepemilikan saham, transparansi perdagangan, serta porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar atau free float.

Pada Januari 2026, penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti persoalan transparansi pasar saham Indonesia. Perhatian tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dalam indeks global.

Tekanan kembali menguat pada Oktober setelah MSCI membuka konsultasi terkait kemungkinan penurunan status Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market.

Perubahan klasifikasi tersebut berpotensi memengaruhi posisi saham-saham Indonesia dalam indeks acuan global yang digunakan oleh banyak pengelola dana investasi internasional. Kondisi ini turut menimbulkan kekhawatiran mengenai kemungkinan arus keluar modal asing.

Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), tekanan jual yang besar membuat perdagangan saham sempat dihentikan sementara melalui mekanisme trading halt. IHSG kemudian ditutup melemah 11,57 persen ke level 5.199,96.

Situasi tersebut menempatkan otoritas pasar modal pada tantangan untuk memperkuat transparansi, meningkatkan tata kelola, dan menjaga kepercayaan investor terhadap pasar saham Indonesia.

Mengapa IHSG Ambruk pada Januari 1998?

Kejatuhan IHSG pada 8 Januari 1998 berlangsung dalam konteks yang jauh lebih luas, yakni krisis moneter Asia yang mulai mengguncang kawasan sejak 1997.

Krisis bermula dari tekanan terhadap mata uang baht Thailand pada Juli 1997, sebelum menyebar ke sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia. Rupiah kemudian mengalami pelemahan tajam terhadap dolar Amerika Serikat.

Kondisi tersebut meningkatkan beban perusahaan yang memiliki utang dalam valuta asing. Dunia usaha dan sektor perbankan menghadapi tekanan berat, sementara ketidakpastian ekonomi membuat investor semakin berhati-hati.

Pada akhir 1997, pemerintah Indonesia menjalin program bantuan dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Namun, berbagai persoalan ekonomi, tekanan terhadap perbankan, serta ketidakpastian kebijakan masih membayangi perekonomian nasional.

Tekanan tersebut turut memukul pasar modal. Pada 8 Januari 1998, IHSG tercatat turun 11,88 persen ke level 347,11. Kejatuhan itu terjadi ketika kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia terus melemah.

Krisis kemudian berkembang melampaui persoalan ekonomi. Gejolak sosial dan politik serta tuntutan reformasi semakin menguat sepanjang 1998. Puncaknya, Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 setelah sekitar 32 tahun berkuasa.

Berbeda Pemicu, Sama-Sama Menguji Kepercayaan Investor

Kejatuhan IHSG pada 2026 dan 1998 memperlihatkan betapa pentingnya kepercayaan dalam menjaga stabilitas pasar modal. Namun, keduanya tidak dapat disamakan begitu saja karena skala persoalan dan kondisi ekonomi yang melatarbelakanginya berbeda.

Pada 2026, perhatian investor antara lain tertuju pada transparansi perdagangan, struktur kepemilikan saham, tata kelola pasar, dan risiko perubahan klasifikasi Indonesia dalam indeks global.

Sementara itu, pada 1998, pasar saham tertekan di tengah krisis mata uang dan perbankan yang kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi serta politik nasional.

Karena itu, perkembangan IHSG pada Oktober 2026 perlu dicermati bersama respons otoritas pasar modal dan kebijakan pemerintah dalam menjaga keterbukaan informasi serta kepercayaan investor.

Pemulihan kepercayaan menjadi faktor penting agar pasar modal Indonesia tetap mampu menjalankan perannya sebagai salah satu sumber pendanaan bagi dunia usaha dan perekonomian nasional.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts