Kabut Asap Selimuti Pagaralam, Bandara Atung Bungsu Tetap Layani Penerbangan

Writer: - Selasa, 13 Oktober 2026
Kabut asap menyelimuti Kota Pagaralam, Sumatera Selatan. Kondisi jarak pandang menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam operasional penerbangan di Bandara Atung Bungsu, sementara data IQAir pada 5 Oktober 2026 mencatat kualitas udara Pagaralam dalam kategori tidak sehat. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Pagaralam, Sumselupdate.com – Kabut asap yang menyelimuti Kota Pagaralam, Sumatera Selatan, menjadi perhatian karena kualitas udara sempat tercatat dalam kategori tidak sehat. Meski demikian, aktivitas penerbangan di Bandara Atung Bungsu tetap dapat berlangsung selama kondisi cuaca dan jarak pandang memenuhi persyaratan keselamatan.

Kepala Bandara Atung Bungsu Pagaralam, Aminoto Sastra, mengatakan kabut asap tidak serta-merta menghentikan seluruh aktivitas penerbangan. Operasional pesawat tetap mempertimbangkan kondisi cuaca, arah angin, serta jarak pandang di sekitar bandara.

Read More

Menurut Aminoto, asap yang terbawa angin berpotensi memengaruhi kondisi di sekitar jalur penerbangan. Karena itu, pemantauan perlu dilakukan, terutama ketika pesawat akan melakukan pendaratan.

“Selama jarak pandang masih memungkinkan dan kondisi memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan, aktivitas penerbangan dapat tetap berjalan,” ujar Aminoto.

Namun, kondisi penerbangan dapat berubah mengikuti situasi di lapangan. Pada Jumat (9/10/2026), aktivitas penerbangan di Bandara Atung Bungsu sempat terganggu akibat kabut asap sehingga penerbangan dihentikan sementara.

Keputusan operasional, menurut prinsip keselamatan penerbangan, harus mempertimbangkan kondisi aktual dan tidak semata-mata berpatokan pada jadwal keberangkatan maupun kedatangan.

Kualitas Udara Pagaralam Tercatat Tidak Sehat

Selain berdampak terhadap penerbangan, kabut asap juga menjadi perhatian karena kualitas udara Pagaralam tercatat dalam kategori tidak sehat.

Berdasarkan data IQAir Indonesia yang dikutip dalam pemantauan Sumselupdate.com, indeks kualitas udara atau AQI mencapai 160. Konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat sebesar 68,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sekitar 13,8 kali pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Data tersebut merupakan pembaruan pada 5 Oktober 2026 pukul 19.00. Angka itu menggambarkan kondisi pada waktu tersebut dan tidak dapat dianggap sebagai data kualitas udara terkini saat berita diterbitkan.

Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan polutan ini berisiko memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit paru-paru atau jantung.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, masker berstandar N95, KN95, atau FFP2 dapat membantu mengurangi paparan partikel halus.

Warga juga disarankan memantau perkembangan kualitas udara melalui sumber tepercaya dan mengikuti informasi resmi mengenai kondisi penerbangan.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berpotensi mengganggu lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat dan mobilitas warga. Karena itu, pemantauan kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang menjadi penting untuk mendukung keselamatan masyarakat serta operasional penerbangan.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts