Kabut Asap Karhutla Kian Mengkhawatirkan, Kualitas Udara Palembang Masuk Kategori Berbahaya

Writer: - Sabtu, 10 Oktober 2026
Kualitas udara di Kota Palembang masih berada dalam kategori berbahaya dari pagi hingga sore, Sabtu (10/10/2026), akibat tingginya konsentrasi PM2.5 yang berkaitan dengan kabut asap karhutla di Sumatera Selatan. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, masih berada dalam kondisi mengkhawatirkan akibat tingginya konsentrasi partikulat halus PM2.5 yang berkaitan dengan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan pemantauan IQAir pada Sabtu (10/10/2026) pukul 09.00 WIB, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Palembang mencapai 436. Angka tersebut masuk kategori berbahaya. Sementara itu, konsentrasi PM2.5 tercatat sebesar 293,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Read More

Kondisi serupa terpantau melalui data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di sejumlah stasiun pemantauan di Palembang. Konsentrasi PM2.5 di Stasiun Talang Betutu mencapai 747,4 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB. Adapun Stasiun Musi 2 mencatat konsentrasi 584,9 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB.

Kedua angka tersebut jauh melampaui batas konsentrasi PM2.5 kategori berbahaya, yakni di atas 250,5 µg/m³ berdasarkan klasifikasi yang digunakan BMKG.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan bahwa konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 meningkat tajam menjelang pagi.

Pada pukul 01.00 hingga 04.00 WIB, konsentrasi partikulat halus di lokasi tersebut masih berkisar antara 164,2 hingga 246,8 µg/m³. Namun, pada pukul 05.00 WIB, angkanya melonjak menjadi 584,9 µg/m³.

“Masyarakat yang berada di wilayah dengan konsentrasi PM2.5 tinggi disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai apabila harus beraktivitas di luar,” imbaunya.

Sementara itu, konsentrasi PM2.5 di Stasiun Talang Betutu juga mengalami fluktuasi tajam. Pada pukul 03.00 WIB, angkanya tercatat sebesar 732,1 µg/m³, kemudian turun menjadi 311,2 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB. Konsentrasi kembali meningkat hingga mencapai 747,4 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB.

Data tersebut menunjukkan tingginya paparan partikulat halus di sejumlah wilayah Palembang sejak dini hari hingga pagi.

Hingga Sabtu (10/10/2026) pukul 14.00 WIB, kualitas udara Palembang masih berada dalam kategori berbahaya berdasarkan pemantauan yang dilaporkan.

Data IQAir menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada di angka 388 µg/m³. Sementara itu, data BMKG yang dirujuk dalam laporan pemantauan mencatat konsentrasi sebesar 455 µg/m³.

Perbedaan angka tersebut dapat dipengaruhi oleh lokasi stasiun pemantauan, waktu pengukuran, dan metode pengukuran yang digunakan. Karena itu, data dari masing-masing sumber perlu dibaca sesuai lokasi dan waktu pencatatannya.

Tingginya konsentrasi PM2.5 menjadi perhatian karena partikulat berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Masyarakat, terutama anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan, perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.

Warga disarankan membatasi aktivitas fisik di luar ruangan saat konsentrasi polutan tinggi, mengurangi masuknya asap ke dalam rumah, serta menggunakan respirator yang sesuai, seperti masker berstandar N95, apabila harus beraktivitas di luar ruangan.

Masyarakat juga diimbau memantau informasi kualitas udara dan perkembangan kabut asap dari sumber resmi, termasuk BMKG dan instansi terkait, untuk menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi lingkungan.

Kabut asap yang berkaitan dengan karhutla masih menjadi tantangan bagi kualitas udara di Sumatera Selatan. Pemantauan berkala diperlukan untuk mengetahui perkembangan konsentrasi polutan sekaligus mendukung upaya perlindungan kesehatan masyarakat.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts