Kualitas Udara Palembang Masih Berbahaya, Warga Diminta Waspada, Berikut Dampak bagi Kesehatan

Writer: - Kamis, 1 Oktober 2026
Kondisi udara Kota Palembang yang semakin memburuk pada Kamis (1/10/2026) pagi. Warga diminta tidak mengabaikan kesehatan dan mengurangi aktivitas di luar rumah saat kualitas udara berada pada level berbahaya. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com — Warga Kota Palembang masih perlu mewaspadai kondisi kualitas udara. Setelah konsentrasi PM2.5 mencapai angka sangat tinggi pada Rabu (30/9/2026), pemantauan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kualitas udara di Palembang masih berada pada kategori berbahaya.

Data BMKG pada Kamis (1/10/2026) pukul 03.00 WIB mencatat konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 Palembang mencapai 581,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Read More

Berdasarkan klasifikasi BMKG, konsentrasi PM2.5 di atas 250,5 µg/m³ masuk dalam kategori berbahaya. Dengan demikian, angka yang tercatat di Stasiun Musi 2 tersebut masih jauh berada di atas ambang kategori tersebut.

Kondisi ini terjadi sehari setelah kualitas udara Palembang mencatat konsentrasi PM2.5 yang lebih tinggi.

Pada Rabu (30/9/2026) sekitar pukul 04.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Stasiun Musi 2 mencapai 699,5 µg/m³.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis menyebut angka tersebut sebagai rekor tertinggi selama bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2026.

Kualitas udara mulai memburuk sejak Selasa (29/9/2026) malam. Berdasarkan data BMKG, konsentrasi PM2.5 berada pada level berbahaya sejak malam dan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada dini hari.

Pada pukul 05.00 WIB, konsentrasi PM2.5 masih tercatat 651,8 µg/m³. Angka tersebut kemudian turun menjadi 412,9 µg/m³ pada pukul 06.00 WIB dan 398,8 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB.

Jangan Menunggu Asap Semakin Tebal

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kualitas udara tidak selalu dapat dinilai hanya berdasarkan kondisi yang terlihat oleh mata.

PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, yakni partikulat dengan diameter hingga 2,5 mikrometer. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan ketika terhirup.

Paparan PM2.5 dalam jumlah tinggi dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Pada sebagian orang, terutama mereka yang sensitif terhadap polusi udara, paparan dapat menyebabkan mata dan tenggorokan terasa perih, batuk, hidung atau tenggorokan teriritasi, serta sesak atau napas terasa tidak nyaman.

Paparan polusi udara juga dapat memperburuk keluhan pada orang yang sudah memiliki penyakit pernapasan atau penyakit jantung. Anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Jika paparan berlangsung dalam waktu lama atau berulang, partikel polusi yang masuk ke tubuh juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius pada sistem pernapasan dan kardiovaskular.

Karena itu, masyarakat tidak perlu menunggu sampai asap terlihat semakin tebal untuk mengambil langkah pencegahan. Ketika kualitas udara sudah berada pada kategori berbahaya, mengurangi paparan menjadi langkah penting.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada level berbahaya. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel polusi yang terhirup.

Pintu dan jendela rumah juga dapat ditutup ketika kondisi udara luar sedang buruk. Masyarakat dapat terus memantau perkembangan kualitas udara melalui informasi resmi BMKG dan pemerintah daerah.

Apabila muncul keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, batuk berat atau keluhan kesehatan lain yang mengkhawatirkan, masyarakat sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

Kondisi kualitas udara tersebut juga perlu menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menentukan langkah perlindungan masyarakat, khususnya bagi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi udara.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts