Palembang, Sumselupdate.com – Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Sumatera Selatan (Sumsel) menyalurkan paket nutrisi kepada 21 pasien Tuberkulosis (TBC) yang tengah menjalani pengobatan.
Program pendampingan tersebut dilaksanakan selama dua bulan, yakni Mei hingga Juni, dengan penyaluran bantuan dilakukan secara langsung ke rumah penerima manfaat melalui kunjungan rumah atau home visit.
Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan sejumlah puskesmas serta melibatkan kader TBC di wilayah masing-masing.
Keterlibatan puskesmas dan kader TBC dilakukan untuk mendukung proses pendampingan pasien, mulai dari penyaluran bantuan hingga pemantauan kondisi kesehatan penerima manfaat di lapangan.
Dalam setiap kunjungan, tim LKC Dompet Dhuafa Sumsel bersama kader TBC menyerahkan paket nutrisi berupa bahan pangan bergizi untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi pasien selama menjalani terapi.
Selain memberikan bantuan pangan, tim kesehatan juga melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana terhadap penerima manfaat.
Pemeriksaan meliputi pengukuran berat badan, tinggi badan, serta kadar hemoglobin (Hb). Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk memantau kondisi kesehatan dan status gizi pasien selama menjalani pengobatan.
Hasil pemeriksaan kemudian menjadi bahan pemantauan perkembangan pasien sekaligus dasar untuk memberikan edukasi dan pendampingan lanjutan.
Salah seorang pasien penerima manfaat mengaku terbantu dengan program yang dijalankan LKC Dompet Dhuafa Sumsel.
Menurutnya, dukungan yang diberikan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga memberikan motivasi selama menjalani pengobatan.
“Selama dua bulan terakhir saya sangat terbantu dengan adanya program ini. Saya menjadi lebih semangat untuk sembuh dan menjalani pengobatan sampai tuntas,” ungkapnya.
Melalui program tersebut, LKC Dompet Dhuafa Sumsel berharap pasien TBC dapat menjalani pengobatan secara optimal dan menyelesaikan terapi hingga tuntas.
Pendampingan juga diharapkan dapat membantu meningkatkan kondisi gizi pasien sekaligus memberikan dukungan moral selama proses pengobatan.
Kolaborasi antara tenaga kesehatan, puskesmas, kader TBC, keluarga, dan lembaga sosial dinilai penting untuk memperkuat pendampingan pasien serta mendukung upaya eliminasi TBC di Indonesia.
(**)











