Pratu Royhan Belajar Menganyam Bambu dari Nenek Parmi, Wujud Kedekatan Satgas TMMD dengan Warga

Writer: - Sabtu, 18 Juli 2026
Pratu Royhan, anggota Satgas TMMD Reguler ke-129 Kodim 0714/Salatiga dari Yon Arhanudse 15, belajar menganyam bambu bersama Nenek Parmi (80) di Dusun Gombyong, Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Sabtu (18/7/2026). Momen tersebut menjadi simbol kedekatan TNI dengan masyarakat dalam pelaksanaan program TMMD. (Foto; Sumselupdate.com/Istimewa)

Semarang, Sumselupdate.com – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-129 Tahun Anggaran 2026 di Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, tidak hanya menghadirkan pembangunan infrastruktur.

Di balik aktivitas pembangunan, terjalin pula kedekatan antara personel Satgas TMMD dan masyarakat melalui berbagai aktivitas sehari-hari, salah satunya belajar menganyam bambu bersama warga.

Read More

Momen tersebut terlihat ketika Pratu Royhan, anggota Satgas TMMD dari Yon Arhanudse 15, memanfaatkan waktu istirahat dengan mengunjungi rumah Nenek Parmi (80), warga Dusun Gombyong, Desa Cukil, Sabtu (18/7/2026).

Di rumah lansia tersebut, Pratu Royhan belajar menganyam bambu untuk membuat tempat ikan pindang, kerajinan tradisional yang telah lama menjadi bagian dari mata pencaharian masyarakat setempat.

Dengan penuh kesabaran, Nenek Parmi mengajarkan teknik menyusun bilah-bilah bambu agar menghasilkan anyaman yang kuat dan rapi. Suasana belajar berlangsung hangat diselingi canda dan tawa, mencerminkan hubungan akrab antara prajurit TNI dan warga.

Bagi Nenek Parmi, kehadiran anggota Satgas TMMD memberikan kebahagiaan tersendiri. Selain membantu pekerjaan, perhatian yang diberikan personel TNI membuatnya merasa tidak sendiri.

“Senang sekali ada yang membantu. Rasanya seperti punya cucu sendiri yang mau belajar menganyam bambu,” ujar Nenek Parmi.

Sementara itu, Pratu Royhan mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian seorang prajurit kepada masyarakat.

Menurutnya, TMMD bukan hanya menyelesaikan sasaran pembangunan fisik, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan semangat kebersamaan dengan masyarakat.

“Kami hadir bukan hanya untuk menyelesaikan sasaran fisik TMMD, tetapi juga ingin berbagi waktu, tenaga, dan kebersamaan dengan masyarakat. Dari kegiatan sederhana seperti ini, kami belajar bahwa kebersamaan adalah kekuatan terbesar dalam membangun desa,” katanya.

Ia menambahkan, pengalaman belajar menganyam bambu menjadi pelajaran berharga tentang kearifan lokal yang masih dijaga masyarakat Desa Cukil.

Program TMMD Reguler ke-129 sendiri terus mengedepankan semangat kemanunggalan TNI dengan rakyat, tidak hanya melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga lewat interaksi sosial yang mempererat hubungan antara prajurit dan masyarakat.

Anyaman bambu yang dikerjakan bersama menjadi simbol gotong royong, kepedulian, dan kebersamaan yang menjadi ruh pelaksanaan TMMD di Desa Cukil.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts