102 Pekebun Sawit OKI Digembleng IPB Training, Siap Tingkatkan Produktivitas dan Wujudkan Standar ISPO

Writer: - Selasa, 30 Juni 2026
Pembukaan Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit kepada Pekebun Kabupaten OKI di Hotel Emilia Palembang, Selasa (30/6/2026). (Sumselupdate.com/Istimewa)

Palembang, Sumselupdate.com – Upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat terus diperkuat. Sebanyak 102 pekebun asal Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mengikuti Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit yang digelar IPB Training di Hotel Emilia Palembang pada 30 Juni hingga 5 Juli 2026.

Pelatihan ini merupakan bagian dari program pengembangan sumber daya manusia (SDM) perkebunan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan.

Selama enam hari, para peserta dibekali berbagai materi mulai dari teknik budidaya yang baik, pengelolaan kebun berkelanjutan, hingga penerapan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) sebagai bekal meningkatkan hasil produksi sekaligus memenuhi tuntutan industri sawit modern.

Sekretaris Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten OKI, Hidayat, S.Hut., M.Si., mengatakan pelatihan tersebut menjadi langkah penting untuk meningkatkan kapasitas pekebun rakyat di daerahnya.

Menurutnya, Kabupaten OKI memiliki luas perkebunan kelapa sawit sekitar 394.583 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 37 ribu hektare merupakan kebun milik masyarakat, sementara sisanya dikelola sekitar 49 perusahaan perkebunan.

Baca juga : Saksi Bank Beberkan Kredit Macet PT BSS dan PT SAL Berujung Lelang Kebun Sawit

Meski menjadi salah satu sentra sawit terbesar di Sumatera Selatan, produktivitas kebun rakyat dinilai masih dapat terus ditingkatkan karena sebagian pekebun belum sepenuhnya menerapkan teknik budidaya yang sesuai standar.

“Melalui pelatihan ini kami berharap para pekebun memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik sehingga produktivitas kebun rakyat dapat meningkat,” ujar Hidayat.

Sementara itu, Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Mula Putra, S.E., M.Sc., menyebut Indonesia masih mempertahankan posisi sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia.

Saat ini luas perkebunan sawit nasional mencapai sekitar 16,8 juta hektare dengan produksi sekitar 48 juta ton crude palm oil (CPO) setiap tahun. Dari total luasan tersebut, sekitar 42 persen merupakan perkebunan rakyat.

Baca juga : Polisi Ungkap Pencurian Mobil Kijang Kapsul di Palembang, Penadah Ditangkap di PALI, Mobil Disembunyikan di Kebun Sawit

Namun demikian, produktivitas sawit rakyat masih berada pada kisaran 3,3 hingga 3,5 ton CPO per hektare per tahun, jauh di bawah potensi produksi yang dapat mencapai 5 hingga 6 ton per hektare.

Karena itu, pemerintah terus memperkuat berbagai program peningkatan produktivitas, mulai dari peremajaan tanaman, penyediaan sarana dan prasarana perkebunan, hingga peningkatan kompetensi SDM melalui pelatihan teknis.

“Pelatihan seperti ini menjadi investasi penting untuk meningkatkan kemampuan pekebun sehingga mampu mengelola kebun secara lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan,” kata Mula Putra.

Ia juga mengapresiasi kontribusi Sumatera Selatan sebagai salah satu lumbung sawit nasional dengan luas perkebunan sekitar 1,4 juta hektare. Kabupaten OKI dinilai memiliki peran strategis sehingga penguatan kapasitas pekebun menjadi salah satu prioritas pemerintah.

Selain mengejar peningkatan produksi, pemerintah juga terus mendorong implementasi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) di seluruh sektor perkebunan sawit.

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33 Tahun 2025, perusahaan perkebunan wajib memenuhi sertifikasi ISPO paling lambat tahun 2027, sedangkan pekebun rakyat ditargetkan menerapkannya pada 2029.

Mula Putra menjelaskan, pengembangan SDM dilakukan melalui penguatan soft skill maupun hard skill. Para pekebun tidak hanya dibekali kemampuan teknis budidaya, panen, dan pascapanen, tetapi juga penguatan kelembagaan, kepemimpinan kelompok tani, hingga tata kelola usaha yang berkelanjutan.

“Dengan SDM yang semakin kompeten, kami optimistis produktivitas perkebunan rakyat akan meningkat sekaligus mampu memenuhi standar keberlanjutan yang menjadi tuntutan pasar global,” katanya. (Iya)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts