Review Buku Kumpulan Puisi: Jejak Jaman

Writer: - Minggu, 29 Juni 2025
Buku kumpulan puisi Jejak Jaman karya Solehun (Sumselupdate.com/ Ist)

“Lukisan adalah puisi bisu, dan puisi adalah lukisan yang berbicara,”
– Plutarch, filsuf Yunani

Setiap jaman pasti memiliki jejak kehidupan. Jejak itu pun bertema beragam. Begitu pula dengan suasana yang menyertainya. Ada sedih, ada gembira. Ada heroik, ada pengecut. Ada demokratis, ada otoriter. Ada romantis, ada realistis. Ada jujur, ada bohong. Ada tenang, ada galau. Ada pelindung, ada perusak. Selanjutnya, ada humanitarian, ada antikemanusiaan. Ada religius, ada sekuler.

Ibarat sebuah lukisan, jejak-jejak kehidupan itu dipaksa mesti “berbicara” melalui buku kumpulan puisi Jejak Jaman karya Solehun (2025). Jejak-jejak masa lalu dan masa kini yang berserakan itu diyakini bisa menghadirkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Karena itu, penulis pun bersemangat memungut jejak-jejak itu, lalu mereproduksinya ke dalam bentuk puisi agar bisa dikenali, dinikmati, dan dimaknai sebagai referensi dalam membuat jejak baru (jejak masa depan) yang lebih baik.

Di dalam buku setebal 200 halaman ini terdapat 12 jejak kehidupan yang tertuang ke dalam 193 puisi. Jejak-jejak itu meliputi jejak kemanusiaan, jejak medsos, jejak pemimpin, jejak politik, jejak demokrasi, dan jejak pendidikan. Selanjutnya, jejak generasi, jejak cinta, jejak religi, jejak pertanian, jejak pandemi, dan jejak lingkungan.

Selalu ada makna di balik apa pun bentuk ciptaan Tuhan. Tiada masa depan tanpa hari kemarin. Begitulah, pesan ini seakan menjadi trigger bagi penulis di dalam memunguti jejak-jejak kehidupan itu. Jejak-jejak itu pun dianggap terlalu naif jika harus terabaikan. Baginya, jejak-jejak itu bisa menjadi guru kehidupan, pengingat, pemersatu, bahkan penyemangat bagi siapa pun yang membacanya untuk menata masa depan yang lebih baik.

Seperti buku kumpulan puisi pada umumnya, buku Jejak Jaman ini tentunya tak bisa melepaskan diri dari kesan subjektivitas penulis dalam menangkap, melukiskan, dan memaknai jejak kehidupan di sekelilingnya.

Terlepas dari kelemahan itu, buku ini setidaknya dapat menghadirkan notasi bagi ruang kosong di pikiran kita bahwa membaca jejak kehidupan itu perlu. Ini bukan untuk kepentingan romantisme semata, tetapi lebih dari itu, untuk acuan bagi siapa pun dalam menapakkan jejak barunya.

Syukur-syukur, puisi di dalam buku ini dapat menjelma sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh sastrawan Amerika Serikat, Alice Walker, “Puisi adalah sumber kehidupan pemberontakan, revolusi, dan kebangkitan kesadaran”, bagi pembacanya.

(**)

Bantu Kami untuk Berkembang

Mari kita tumbuh bersama! Donasi Anda membantu kami menghadirkan konten yang lebih baik dan berkelanjutan. Scan QRIS untuk berdonasi sekarang!


Related posts