Jakarta, Sumselupdate.com – Wakil Ketua MPR Syarief Hasan mengatakan, teknologi informasi yang berkembang begitu pesat, generasi muda Indonesia diharapkan bisa melakukan kreativitas dan berinovasi terhadap hal hal positif agar terhindar dari pengaruh dan paham radikal terorisme.
“Saya minta masyarakat berperan aktif menangkal masuknya paham radikal terorisme di tengah masyarakat yang saat ini banyak disebarkan melalui dunia maya. Semua informasi yang diterima kalau bisa disortir terlebih dahulu. Jangan langsung ditransmisikan atau disebar,” ujar Syarief di hadapan pelajar dan mahasiswa, Jakarta, Selasa (13/4/2021).
Dia menyadari, program yang telah dilakukan pemerintah untuk memberikan sosialisasi terhadap penanggulangan terorisme melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) selama ini patut disikapi salah satu program demi kepentingan bangsa dan negara.
“Begitu pun program kontra radikalisme juga bisa dilakukan melalui pemahaman terhadap Undang-undang Dasar 1945, Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Kalau hal itu dipahami dengan utuh, Insya Allah, terorisme tidak memiliki tempat di masyarakat. Dengan demikian kita berhasil menanggulangi terorisme di Indonesia,” kata Syarief.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri bidang Komunikasi dan Media Massa, Kementerian Komunikasi dan Informastika (Kemenkominfo), Widodo Muktiyo, mengatakan, pihaknya sebagai institusi yang menyediakan infrastruktur dan mengelola komunikasi publik mendukung upaya BNPT yang telah memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia menegani bahaya paham radikal terorisme.
Kominfo kata dia, sangat mendukung memberikan pesan positif, pesan terhadap bahaya terorisme. Jangan sampai masyarakat bangsa salah arah dan sampai masuk dalam jebakan terorisme.
“Tidak ada itu surga yang akan menjemput kita kalau melakukan aksi mengebom. Percayalah hal-hal yang baik itu rasional dan bangsa ini sudah dalam on the track bisa melawan terorisme dan hal-hal tidak baik yang merusak bangsa dan masyarakat Indonesia,” tuturnya.
Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis menjelaskan, tema yang dibahas dalam forum ini sangat tepat dengan tupoksi pencegahan, perlindungan, dan deradikalisasi, yakni merumuskan, mengkoordinasikan, dan melaksanakan kebijakan strategi dan program nasional penanggulangan terorisme khususnya kesiapsiagaan nasional, kontradiksi radikalisasi, serta deradikalisasi.
“BNPT dalam hal FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) sangat fokus terhadap upaya pencegahan dan deradikalisasi dengan melibatkan semua tokoh masyarakat, pendidikan, tokoh pemuda, dan agaman. Pendekatan yang digunakan juga integratif, yakni mencakup bidang agama, sosial budaya, pemuda, pendidikan, perempuan dan anak, media massa hukum, humas serta pengkajian dan penelitian,” katanya.
Menyikapi tindakan teror yang masih saja terjadi, diperlukan upaya berkelanjutan dan sinergitas dari semua pihak untuk mensukseskan program kontra radikalisasi, baik kontra ideologi, kontra narasi, maupun kontra propaganda.
Bahwa kontra radikalisasi adalah bagian dari upaya preventif untuk memberantas terorisme di bumi pertiwi.
“BNPT memiliki Pusat Media Damai yang melaksanakan kegiatan ke depan yang bermanfaat sesuai dengan ajaran agama masing-masing, serta menumbuhkan pesan kedamaian kepada generasi muda,” ujar Mayjen TNI Hendri.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Dirjen Pendis Kemenag), Muhammad Ali Ramdhani secara virtual menyampaikan terorisme adalah nyata di depan kita. Kalau BNPT membahas adanya Duta Damai Dunia Maya maka dia juga berharap peserta webinar bisa menjadi duta-duta menjaga perdamaian di bangsa ini.
“Saya berharap semua orang yang hari ini mengikuti webinar kita ini adalah duta moderasi beragama yang bisa menyampikan ke masyarakat bahwa ajaran agama yang paling benar adalah yang senafas dengan rasa cinta dan harmoni. Tidak ada pemaksaan kehendak apalagi melakukan upaya perusakan. Karena itu terlarang,” tegas Muhammad Ali.
Dikatakan, setiap jengkal di negara Republik Indonesia ini indah ketika cinta menyapa kita semua mewujudkan perdamaian dan menghormati antar sesama umat manusia serta perbedaan di negara ini.
“Prinsip moderasi beragama adalah sebuah magnet menarik pendulum pemahaman keagamaan dari ekstrem kanan menuju garis tengah dan dari ekstrem kiri menuju tengah sehingga melalui orang moderat, yang toleran, harmonis maka wujud Indonesia maju dan bermartabat dapat dicapai dengan baik,” paparnya. (duk)











