Pengkalan balai, sumselupdate.com – Sektor kepariwisataan memiliki multiplier effect, yang dipercaya mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja. Itulah mengapa, percepatan pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dapat dilakukan dengan mempromosikan pengembangan pariwisata.
Industri pariwisata dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang sangat besar, baik bagi negara maupun bagi wilayah setempat yang bersangkutan.
Hal itu sejalan dengan tujuan dari didirikannya sebuah negara yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada alinea keempat yang menyebutkan bahwa tujuan dari didirikannya suatu negara Indonesia adalah untuk : melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
Dalam era globalisasi saat ini, sektor pariwisata saat ini telah menjadi salah satu industri terbesar dan terkuat di dunia, dan pariwisata merupakan penyumbang terbesar dalam pemasokan pendapatan terutama dalam hal perekonomian masyarakat dan negara.
Kegiatan pariwisata sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat mulai dari masyarakat yang ada di kota sampai pada masyarakat yang ada di desa.
Bupati Banyuasin H Askolani seusai menerima rombongan rektor Univerisity Tenaga Nasional (Uniten) Malaysia menyatakan, “Kami menyadari bahwa komposisi struktur APBD kabupaten Banyuasin masih belum mampu untuk membangun Banyuasin ini di berbagai bidang. Sedangkan dibanding luas wilayah dan jumlah penduduk, anggaran APBD Banyuasin sulit untuk dilakukan.
Oleh karena itu saya terus menggalakkan OPD-OPD dan multi stakeholder agar dapat mencari peluang pendapatan daerah dan pemberdayaan masyarakat. Dan pariwisata menjadi salah satu jurus jitu untuk meningkatkan pendapatan daerah dan pendapatan pemberdayaan masyarakat, dan itu semua harus dilakukan guna percepatan pembangunan,” ungkap Askolani.
Selaras dengan bupati, kepala Bappeda Litbang Erwin Ibrahim menjelaskan, “ Pemkab Banyuasin telah memetakan titik potensi pariwisata di wilayah kabupaten Banyuasin dan potensi tersebut akan kita bangkitkan dengan melibatkan berbagai pihak, antara lain bekerjasama perguruan tinggi dan pihak pihak pendonor dunia yang bergerak di bidang pariwisata, kebudayaan dan lingkungan hidup,” terangnya.
Ada beberapa titik potensi pariwisata di Banyuasin, seperti Taman Nasional Sembilang, Kampung Nelayan Sungsang, Danau Biru Banyuasin dan lainnya.
“Dan itu semua akan kita siapkan masterplan-nya bersama Dinas Pariwisata dengan keterlibatan banyak pihak. Seperti kampung nelayan sungsang BA II, pihak Sinarmas dan sekolah tinggi Trisakti tengah menyusun masterplan kampung nelayan Sungsang yang luasan potensi wisatanya di 5 Desa Sungsang di BA II, kajian ini kita harapkan di tahun 2019 ini sehingga rencana aksi dari kajian ini dapat segara dilaksanakan ditahun 2020,” tuturnya.
Di 5 desa sungsang ini banyak hal menarik yang bisa menjadi pembangkit daya tarik pariwisata, mulai dari budaya masyarakat pesisir, melihat proses penangkapan/pembudidayaan ikan, pengelolaan produk perikanan yang di kelola oleh UMKM, pengelolaan lingkungan hidup/penataan sampah dan menikmati sunset dan sunrise di pesisir laut hutan manggrove Banyuasin.
Dan jika bangkitan pariwisata dioptimalkan, maka selain pendapat daerah juga meningkat, lanjutnya, juga membuka peluang usaha masyarakat.
“Seperti homestay akan bermunculan, produk asli masyarakat akan meningkat yang tentunya akan menciptakan pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh kabupaten Banyuwangi dalam waktu 8 tahun, mereka dapat menurunkan tingkat kemiskinan dari 20,9 % menjadi 7,8%, salah satu nya dampak dari meningkatnya pariwisata di Banyuwangi dan harapan kita ini dapat dilaksanakan di Banyuasin,” tandas Erwin. (rel)











